Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Ontario, Kanada, dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus rabies. Kasus tragis ini bermula saat korban terbangun dari tidurnya di sebuah pondok liburan di wilayah utara Ontario pada tahun 2024, mendapati seekor kelelawar hinggap di area wajahnya, tepatnya di bagian hidung dan mulut.
Ayah korban sempat menangkap kelelawar tersebut menggunakan peralatan dapur dan melepaskannya ke luar pondok. Karena tidak ditemukan luka fisik yang nyata, seperti bekas gigitan atau cakaran, serta perilaku kelelawar yang tidak tampak agresif, keluarga memutuskan untuk tidak membawa sang anak ke fasilitas medis guna pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, beberapa pekan setelah insiden tersebut, kondisi kesehatan anak itu mulai menurun secara drastis. Ia mengeluhkan gejala awal berupa mati rasa, sensasi kesemutan, dan pembengkakan pada sisi kanan wajahnya. Kondisi tersebut dengan cepat berkembang menjadi gangguan bicara, demam tinggi, kebingungan, halusinasi, kesulitan menelan, hingga produksi air liur yang berlebihan.
Korban sempat menjalani perawatan intensif selama empat hari di McMaster Children’s Hospital, di mana hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi bahwa ia positif terinfeksi rabies. Sayangnya, virus telah merusak sistem saraf pusat secara masif. Lima hari berselang, fungsi batang otaknya dinyatakan hilang sepenuhnya, dan 17 hari setelah dirawat, pihak keluarga sepakat untuk melepas alat bantu hidup.
Laporan medis yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal pada 29 Juni 2026 menekankan bahaya laten dari paparan kelelawar. Virus rabies sering kali tidak disadari karena gigitan atau cakaran kelelawar bisa berukuran sangat kecil dan tersembunyi. Pasien sering kali tidak menyadari bahwa mereka telah terpapar virus mematikan tersebut hingga gejala klinis muncul.
Para ahli medis menegaskan bahwa rabies hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul. Namun, infeksi ini dapat dicegah secara efektif melalui prosedur profilaksis pascapajanan (PEP) jika dilakukan segera setelah kontak. Penanganan cepat, yang meliputi pembersihan luka, pemberian antibodi, dan rangkaian vaksin, menjadi satu-satunya langkah krusial untuk mencegah virus mencapai otak dan menyelamatkan nyawa.