Sains

BRIN Kembangkan Sistem AI untuk Prediksi Kekuatan Badai Matahari

BRIN Kembangkan Sistem AI untuk Prediksi Kekuatan Badai Matahari

Ringkasan

  • BRIN mengembangkan sistem AI Bz4SWx untuk memprediksi kekuatan badai matahari hingga 96 jam lebih awal guna memitigasi dampak badai geomagnetik.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah mengembangkan sistem kecerdasan buatan berbasis multimodal deep learning yang dirancang khusus untuk memprediksi kekuatan medan magnet dalam badai matahari. Inovasi ini menjadi langkah krusial dalam mitigasi bencana antariksa, mengingat medan magnet merupakan faktor penentu utama tingkat bahaya badai matahari terhadap Bumi. Sistem ini diklaim mampu memberikan peringatan dini hingga 96 jam atau empat hari sebelum badai mencapai atmosfer Bumi.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa tingkat keparahan badai matahari sangat bergantung pada arah medan magnet antarplanet atau yang dikenal dalam fisika antariksa sebagai komponen Bz. Ketika arah medan magnet ini mengarah ke selatan dalam durasi yang cukup lama, interaksinya dengan medan magnet Bumi akan menjadi sangat intens. Kondisi tersebut memungkinkan partikel energi tinggi dari Matahari menembus perisai alami Bumi dengan lebih mudah.

Fenomena ini sering disebut sebagai 'The Bz Problem', yang menjadi salah satu tantangan tersulit dalam bidang fisika matahari dan cuaca antariksa. Memprediksi kapan dan seberapa kuat arah medan magnet tersebut mencapai titik minimum adalah kunci untuk memahami potensi dampak badai geomagnetik terhadap infrastruktur modern di Bumi, termasuk satelit, sistem navigasi, jaringan komunikasi radio, hingga jaringan listrik nasional.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN menciptakan sistem bernama Bz4SWx. Sistem ini bekerja dengan menganalisis data lontaran massa korona untuk memprediksi nilai minimum Bz serta waktu terjadinya dalam jendela waktu 96 jam. Dengan data ini, otoritas terkait dapat mempersiapkan langkah mitigasi yang lebih terukur guna meminimalisir risiko kerusakan pada sistem teknologi vital yang rentan terhadap gangguan elektromagnetik.

Kekuatan badai geomagnetik sendiri diklasifikasikan dalam skala G1 hingga G5. Pada skala ringan (G1), dampaknya mungkin terbatas pada fluktuasi kecil listrik dan fenomena aurora. Namun, jika nilai Bz sangat negatif dan bertahan lama, badai dapat mencapai skala ekstrem (G5). Dalam kondisi ini, ancaman kerusakan transformator listrik, pemadaman total, hingga risiko satelit jatuh dari orbit menjadi nyata dan sangat destruktif bagi peradaban modern.

Cara kerja Bz4SWx dianalogikan seperti seorang dokter spesialis yang melakukan diagnosis mendalam terhadap data cuaca antariksa. Dengan mengintegrasikan berbagai model data, sistem ini diharapkan mampu memberikan akurasi prediksi yang lebih baik dibandingkan metode konvensional. Pengembangan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang proaktif dalam riset pemantauan cuaca antariksa demi menjamin keamanan infrastruktur berbasis teknologi di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Kemampuan memprediksi badai matahari secara akurat sangat vital bagi ketahanan infrastruktur digital dan kelistrikan Indonesia yang semakin bergantung pada satelit dan konektivitas global. Inovasi ini memberikan kemandirian teknologi bagi Indonesia dalam memitigasi risiko gangguan sistem komunikasi dan navigasi akibat aktivitas matahari yang ekstrem.

Sumber Asli
Tekno
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit