Para jenderal yang sedang kalah dalam sebuah peperangan biasanya akan melakukan evaluasi mendalam terhadap musuh, medan tempur, dan kekuatan pasukannya sendiri. Namun, Brussels tampaknya memiliki urutan prioritas yang berbeda, di mana mereka lebih memilih untuk memesan senjata baru terlebih dahulu sebelum melakukan diagnosis masalah yang sebenarnya. Kecenderungan ini terlihat jelas dalam pertemuan Dewan Eropa baru-baru ini.
Dihadapkan dengan defisit perdagangan yang sulit ditutup dan ketergantungan ekonomi yang tak kunjung lepas, Uni Eropa sepakat menggunakan label baru: ketidakseimbangan makroekonomi global. Untuk mengatasinya, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, diinstruksikan untuk berdialog dengan China dengan penekanan pada hasil konkret. Hal ini menjadi pengakuan tersirat bahwa tekanan yang meningkat selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Mandat lain yang diberikan adalah mengembangkan lebih banyak alat keamanan ekonomi. Secara diplomatis, ini merupakan pengakuan bahwa blok tersebut sebenarnya tidak memiliki strategi yang jelas. Perdebatan Eropa mengenai China kini tampak terlepas dari penilaian hasil nyata. Jika berbagai kebijakan seperti de-risking, investigasi anti-subsidi, tarif, hingga ancaman perdagangan gagal mengurangi ketergantungan atau memulihkan daya saing, maka penambahan instrumen baru patut dipertanyakan efektivitasnya.
Strategi de-risking telah menjadi kebijakan unggulan tanpa pernah memiliki tolok ukur yang jelas. Tiga tahun setelah diluncurkan, Komisi Eropa masih terus mempromosikannya, namun belum pernah merilis laporan akuntansi publik mengenai ketergantungan mana yang sebenarnya berhasil dikurangi, seberapa besar pengurangannya, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Pencarian instrumen baru telah menjadi alibi untuk menghindari kesimpulan yang lebih tidak nyaman.
Eropa terus mencari solusi berbasis China untuk masalah internal mereka sendiri. Blok ini cenderung memperlakukan masalah daya saing sebagai masalah perdagangan, masalah industri sebagai masalah regulasi, dan kesenjangan teknologi sebagai ancaman eksternal. Setiap mekanisme baru yang dirancang untuk menekan Beijing justru mengalihkan perhatian dari kelemahan fundamental yang lahir dari dalam negeri sendiri.
Hingga kini, Brussels masih belum memiliki definisi pasti mengenai posisi China. Sejak menetapkan China sebagai rival sistemik pada tahun 2019, Uni Eropa masih terjebak dalam ambiguitas antara menganggap China sebagai mitra sekaligus pesaing. Ketidakpastian diagnosis ini menyebabkan kebijakan Eropa terus berayun antara keterlibatan dan konfrontasi, yang pada akhirnya menghambat kemajuan ekonomi blok tersebut di panggung global.