Pemerintah Pakistan secara resmi mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah untuk tetap berkomitmen mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Seruan ini muncul menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai mengancam stabilitas kawasan setelah kesepakatan yang rapuh kembali terganggu oleh aksi militer terbaru.
Desakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, dalam sebuah percakapan telepon dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. Dalam diskusi tersebut, kedua diplomat membahas perkembangan situasi regional yang memburuk secara signifikan dalam beberapa hari terakhir akibat serangan berbalas antara kedua negara.
Kaja Kallas menyampaikan apresiasi tinggi terhadap peran diplomasi Pakistan yang dinilai krusial dalam memfasilitasi Nota Kesepahaman Islamabad. Kerangka kerja tersebut merupakan fondasi perdamaian yang sempat disepakati oleh Washington dan Teheran untuk mengakhiri permusuhan yang meletus sejak akhir Februari lalu.
Namun, pihak Uni Eropa menyatakan keprihatinan mendalam atas serangkaian pelanggaran gencatan senjata yang terjadi baru-baru ini. Kallas menekankan bahwa menjaga jalur komunikasi tetap terbuka adalah satu-satunya cara untuk mencegah konflik berskala lebih besar yang dapat berdampak buruk bagi keamanan global dan stabilitas ekonomi internasional.
Situasi di lapangan memburuk setelah Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pemerintah Bahrain mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan mereka berhasil melakukan intersepsi terhadap sejumlah rudal dan pesawat nirawak yang masuk ke wilayah kedaulatannya dengan target fasilitas strategis.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui pernyataan resminya mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyatakan bahwa tindakan militer itu merupakan bentuk balasan atas serangkaian serangan yang sebelumnya dilancarkan oleh militer Amerika Serikat terhadap target-target militer Iran di kawasan tersebut, sehingga memperumit upaya mediasi yang sedang berjalan.