Produsen kendaraan listrik BYD bersama brand premium-nya Denza resmi meluncurkan BYD and Denza Lifestyle Privilege Programme pada Senin, 31 Agustus. Program ini menghadirkan kartu fisik yang memberikan akses ke penawaran eksklusif di 88 brand mitra mencakup kuliner, perjalanan, perawatan hewan peliharaan, fashion, hingga hiburan — dengan total lebih dari 600 titik akses di seluruh Singapura.
Kepemilikan kartu ini membuka keuntungan berupa diskon 10 persen untuk produk Adidas reguler dengan minimal belanja S$100, potongan S$100 untuk paket perjalanan ke Shenzhen via Chan Brothers Travel, dua potong ayam gratis di KFC selama bulan ulang tahun, langganan mewatch Prime gratis selama enam bulan, serta diskon 5 persen smartphone Oppo di toko resmi. Pemilik Denza mendapat tambahan istimewa: diskon 10 persen layanan charter pesawat AirTaxi.ph dan 20 persen off best available rate di Mett Singapore lengkap benefit kamar dan makan.
Kartu mulai didistribusikan secara bertahap mulai Selasa, 1 September. Vize Presiden BYD Asia Pacific, Liu Xueliang, menegaskan visi perusahaan melampaui pembuatan kendaraan listrik baru. "Seiring tumbuhnya komunitas kami, kami ingin menciptakan ekosistem yang menghubungkan mobilitas berkelanjutan dengan cara orang hidup setiap hari," ujarnya. Program ini dinilai langkah penting memperluas nilai produk di luar pengalaman berkendara.
Managing Director BYD Singapura, James Ng, menambah bahwa pelanggan telah menjadikan BYD merek otomotif nomor satu di Singapura. "Dengan 88 brand di lebih dari 600 titik sentuh, kami ingin memberikan kembali kepada komunitas yang tumbuh ini dan membuat kepemilikan BYD atau Denza lebih menguntungkan — tidak hanya di jalan, tapi dalam kehidupan sehari-hari," kata Ng.
Strategi ekosistem gaya hidup ini bukan hal baru di industri otomotif global, namun eksekusi BYD terlihat lebih agresif dengan jumlah mitra yang masif. Di China, BYD telah lama membangun ekosistem yang mencakup asuransi, finansial, hingga rumah tangga cerdas. Singapura menjadi uji coba pasar matang di luar negeri sebelum model ini mungkin direplikasi ke wilayah lain.
Bagi konteks Indonesia, langkah ini menarik diperhatikan. BYD Indonesia saat ini memimpin pasar mobil listrik dengan model Atto 3, Dolphin, dan Seal yang sukses merebut pangsa pasar signifikan sejak masuk 2024. Namun, program loyalitas serupa dengan cakupan gaya hidup luas belum hadir. Program yang ada terbatas pada after-sales service, garansi baterai, dan event komunitas pemilik.
Perbandingan dengan pesaing menunjukkan tren serupa. Hyundai Indonesia memiliki program Hyundai Click dengan poin belanja, Wuling menawarkan Wuling ID untuk akses layanan, sedangkan Tesla global mengandalkan program referral dan Supercharger network. Belum ada brand mobil listrik di Indonesia yang menawarkan kartu gaya hidup lintas industri sekomprehensif ini.
Analis industri melihat program ini sebagai strategi retensi pelanggan yang cerdas. Biaya akuisisi pelanggan mobil listrik tinggi, dan nilai siklus hidup pelanggan (customer lifetime value) dapat ditingkatkan melalui ekosistem non-otomotif. Mitra seperti Adidas, KFC, dan Oppo juga mendapat akses ke demografis kelas menengah-atas yang ramah teknologi dan berdaya beli tinggi.
Denza sendiri belum resmi masuk Indonesia, meskipun BYD Auto Industry Indonesia (BII) telah mengimpor beberapa unit Denza D9 untuk uji coba pasar. Jika program lifestyle card ini terbukti efektif di Singapura, tidak mustahil BYD Indonesia akan mempertimbangkan skema serupa — mungkin dengan mitra lokal seperti Traveloka, Tokopedia, atau brand F&B nasional.
Tantangan implementasi di Indonesia terletak pada keragaman mitra dan Infrastruktur pembayaran. Singapura memiliki ekosistem digital terintegrasi (PayNow, NETS) yang memudahkan redeem voucher. Indonesia dengan beragam e-wallet dan platform e-commerce memerlukan integrasi teknis yang lebih kompleks, namun juga menawarkan basis pelanggan jauh lebih besar.
Ke depannya, industri otomotif Indonesia akan melihat pergeseran dari kompetisi spesifikasi produk ke kompetisi ekosistem. Produsen yang mampu menciptakan "sticky ecosystem" — di mana pelanggan merasa nilai kepemilikan melampaui produk fisik — akan memenangkan loyalitas jangka panjang. Langkah BYD Singapura bisa jadi blueprint yang akan diadaptasi pemain lain, termasuk brand lokal seperti Wuling atau IMC.