Nallely Arenas tidak lagi hanya berjuang di ruang sidang. Mantan pengacara ini mengalihkan perjuangannya ke lapangan tanah di pinggiran ibu kota Meksiko. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Cancha Violeta, sebuah organisasi sepak bola akar rumput yang menyediakan tempat berlindung bagi remaja yang terjebak dalam lingkungan penuh kekerasan gender dan aktivitas kartel.
Putri Nallely, Karol, merupakan salah satu dari sekian banyak remaja yang menempa kemampuan di sana. Ia berharap bisa terpilih mewakili komunitasnya dalam Street Child World Cup, sebuah turnamen internasional yang memberikan suara bagi anak-anak marginal. Di tengah hingar-bingar Meksiko yang akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, keluarga ini justru dihadapkan pada realitas pahit kekerasan terhadap perempuan.
Kekerasan gender di Meksiko telah mencapai tingkat krisis yang mengkhawatirkan dalam dua dekade terakhir. Data organisasi hak asasi manusia mencatat puluhan ribu kasus femisida setiap tahunnya, membuat jalanan bagi perempuan kerap kali tidak aman. Di wilayah pinggiran seperti tempat Nallely tinggal, absennya negara dalam memberikan rasa aman diperparah oleh cengkeraman kelompok kriminal terorganisir.
Nallely menyadari bahwa penanganan hukum konvensional tidak cukup cepat menyelamatkan generasi muda. Pengalaman panjangnya sebagai litigator yang menangani kasus kekerasan domestik mengajarkan satu hal penting: pencegahan harus dimulai dari akar komunitas. Cancha Violeta lahir dari keputusasaan sekaligus harapan, menawarkan alternatif pendekatan melalui olahraga.
Sepak bola, yang secara tradisional di Meksiko kerap didominasi ruang publik laki-laki, diubah fungsinya menjadi zona netral. Lapangan kecil tersebut kini menjadi satu-satunya ruang di mana anak perempuan bisa berlari tanpa rasa takut menjadi korban pelecehan atau direkrut paksa oleh geng kriminal.
Gerakan semacam ini menarik untuk dibandingkan dengan kondisi di Indonesia, di mana kekerasan berbasis gender juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Meski tidak dibayangi kartel narkoba seperti Meksiko, ancaman kekerasan seksual dan perdagangan anak di area marginal Jakarta, Papua, atau Nusa Tenggara Timur tetap nyata dan mendesak.
Di Indonesia, sepak bola perempuan mulai tumbuh, namun mayoritas berfokus pada prestasi kompetitif ketimbang perlindungan sosial. Organisasi seperti Cancha Violeta membuktikan bahwa olahraga bisa berfungsi sebagai instrumen intervensi sosial yang mengalahkan birokrasi lambat. Komunitas lokal di Tanah Air, seperti liga sepak bola perempuan di desa-desa peduli, dapat mengadopsi model pelatihan berbasis trauma ini.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Nallely menegaskan bahwa teknologi informasi dan media sosial juga berperan penting dalam advokasi. Dokumenter tentang Cancha Violeta yang disutradarai Elpida Nikou dan Rodrigo Hernandez menunjukkan bagaimana narasi digital mampu mengamplifikasi isu kemanusiaan agar mendapat tekanan politik internasional.
Nallely Arenas menegaskan komitmennya dalam wawancara terkait dokumenter tersebut. "Saya tidak ingin putri saya tumbuh dalam ketakutan yang sama seperti yang saya alami. Cancha Violeta adalah perisai kami," ujarnya secara tegas.
Ia menambahkan bahwa partisipasi Karol di Street Child World Cup bukan sekadar tentang menang di atas lapangan. Ajang tersebut adalah panggung untuk meneriakkan bahwa anak perempuan Meksiko berhak atas masa depan yang bebas dari ancaman kekerasan struktural dan budaya patriarki yang mengakar.
Menjelang Piala Dunia 2026, sorotan dunia akan tertuju pada Meksiko. Momentum ini dimanfaatkan Nallely untuk mendesak pemerintah daerah agar memperluas program perlindungan berbasis komunitas. Ia berencana mengembangkan Cancha Violeta ke kota-kota lain yang memiliki tingkat kekerasan tinggi.
Tren penggunaan olahraga sebagai alat diplomasi kemanusiaan diprediksi akan meningkat secara global. Keberhasilan model di Meksiko ini berpotensi menginspirasi gerakan serupa di Amerika Latin dan Asia Tenggara, membuktikan bahwa lapangan hijau bisa menjadi benteng pertahanan paling efektif melawan ketakutan generasi muda.