Canva secara resmi meluncurkan pembaruan besar pada alat pengodean bertenaga kecerdasan buatan (AI) mereka, yakni Canva Code 2.0. Peluncuran yang berlangsung pada Selasa ini membuka akses bagi lebih dari 265 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, termasuk mereka yang menggunakan akun gratis, untuk membangun situs web interaktif dan aplikasi hanya dengan mengetikkan perintah dalam bahasa sehari-hari.
Kehadiran fitur tersebut menandai langkah agresif perusahaan asal Australia tersebut menjejaki pasar “vibe coding” yang sedang melesat pesat. Pengguna kini dapat menyusun draf presentasi, halaman arahan (landing page), hingga pengalaman digital lainnya tanpa harus menyentuh baris kode manual, lalu memoles hasilnya semudah mengubah tata letak presentasi di Canva.
Kategori “vibe coding”, yang merupakan istilah untuk pembuatan perangkat lunak via prompt bahasa natural, baru muncul sekitar 18 bulan lalu. Namun, tren ini sudah melahirkan sejumlah startup bernilai miliaran dolar dan mengubah cara kalangan non-pengembang memandang pembuatan aplikasi. Menurut riset pasar Luminix AI pada Mei 2026, nilai pasar “vibe coding” dan pembuat aplikasi AI mencapai 4,7 miliar dolar AS pada 2026, dengan proyeksi meroket ke 12,3 miliar dolar AS pada 2027.
Canva mengambil taruhan strategis yang berbeda dari para pesaingnya seperti Lovable, Replit, dan Bolt.new. Jika rival berfokus pada menghasilkan kode fungsional dari teks, Canva justru percaya hambatan sesungguhnya bukanlah menciptakan kode, melainkan membuat hasil keluaran tersebut terlihat menarik secara visual. Perusahaan menyebut banyak alat sejenis berhenti pada tahap fungsional sehingga menghasilkan tampilan yang seragam dan membosankan.
Danny Wu, Kepala Produk AI Canva, menegaskan bahwa produk anyar ini sengaja dibidik bagi pengguna non-teknis. Canva Code bukanlah perangkat untuk para programmer profesional, melainkan jembatan yang membawa kekuatan pengodean ringan ke dalam ekosistem desain yang sudah dikuasai Canva. Hal ini menjawab permintaan pengguna akan interaktivitas, kustomisasi, dan fleksibilitas yang lebih tinggi.
Bagi pengguna di Indonesia, kebijakan Canva yang menyertakan akun gratis dalam fitur ini sangat strategis. Indonesia memiliki basis pengguna Canva yang masif, terutama di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta guru dan mahasiswa. Kemampuan membuat situs web profil atau kalkulator interaktif tanpa biaya tambahan akan menekan ketergantungan mereka pada jasa web developer konvensional untuk kebutuhan dasar.
Pasar pembuat aplikasi AI global memang sedang memanas. Lovable dilaporkan mencetak pendapatan berulang tahunan (ARR) sekitar 400 juta dolar AS pada awal 2026. Sementara Replit memvalidasi nilainya hingga 9 miliar dolar AS dan Bolt.new memutar balik pendapatan dari 4 juta ke 40 juta dolar AS hanya dalam hitungan bulan. Canva masuk membawa keunggulan yang tak dimiliki pesaing: ekosistem desain dengan seperempat miliar pengguna yang sudah menyimpan identitas visual merek mereka.
Di tingkat lokal, dominasi alat global semacam ini memicu tantangan bagi startup no-code Indonesia. Meskipun beberapa platform lokal telah hadir, mereka harus berpacu dengan kecepatan inovasi raksasa teknologi yang memiliki modal dan basis pengguna raksasa. Tanpa diferensiasi yang kuat, misalnya integrasi dengan ekosistem pembayaran lokal atau regulasi data dalam negeri, produk lokal berisiko tergerus.
“Kami secara sengaja menargetkan pengguna non-teknis,” ujar Wu dalam wawancara eksklusif menjelang peluncuran. Ia menambahkan bahwa integrasi Canva Code ke dalam editor utama memungkinkan orang menanamkan elemen interaktif ke dalam dek presentasi atau papan tulis, sehingga menyatu dengan narasi komunikasi visual yang hendak disampaikan, bukan sekadar artefak terpisah.
Wu juga memamerkan pengeditan metode seret-dan-lepas (drag-and-drop) saat demonstrasi. Ia mencontohkan sebuah situs web konferensi yang dimodifikasi secara langsung, mulai dari menukar foto, mengganti font sesuai merek, hingga mengubah teks di kanvas. “Pembeda utama Canva Code adalah kemudahan pengeditan dan kecantikan hasil yang dihasilkan,” kata Wu, meski ia mengakui satu batasan saat ini: pengguna belum bisa memindahkan posisi elemen secara bebas dan harus meminta ulang (re-prompt) untuk hal tersebut.
Pembaruan Canva Code 2.0 membawa peningkatan performa signifikan, termasuk pemangkasan waktu generasi kode rata-rata sebesar 75 persen dan pengurangan waktu dari prompt awal hingga situs dipublikasikan sebesar 30 persen. Perusahaan juga menambahkan lebih dari 50 templat desain interaktif baru serta fitur impor HTML mentah yang bisa diubah menjadi desain Canva yang dapat diedit. Integrasi ini telah mendongkrak pengguna aktif Code sebesar 25 persen.
Ke depan, persaingan di ranah “vibe coding” akan bergeser dari sekadar siapa yang bisa menghasilkan kode paling fungsional, menuju siapa yang memberikan pengalaman penyuntingan paling intuitif. Dengan estimasi bahwa 41 persen dari seluruh kode di dunia kini dihasilkan oleh AI, langkah Canva menggabungkan desain dan pengodean memberi sinyal bahwa batas antara desainer visual dan pengembang perangkat lunak akan semakin kabur di masa depan.