Bisnis & Startup

Carlos Ghosn Sebut Seruan Kembalinya Dirinya ke Nissan Cerminkan Kekecewaan Investor

Carlos Ghosn Sebut Seruan Kembalinya Dirinya ke Nissan Cerminkan Kekecewaan Investor

Ringkasan

  • Carlos Ghosn menyoroti kemarahan investor Nissan atas penurunan kinerja perusahaan, menyalahkan manajemen saat ini atas hilangnya nilai dan arah strategis.

Mantan Chairman Nissan, Carlos Ghosn, menyatakan bahwa seruan dari sejumlah pemegang saham agar dirinya kembali memimpin perusahaan merupakan cerminan dari kemarahan mendalam terkait kegagalan rencana pemulihan bisnis selama bertahun-tahun. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Reuters, Ghosn menuding jajaran pimpinan Nissan saat ini telah menyia-nyiakan nilai perusahaan dan kehilangan arah strategis sejak kepergiannya pada tahun 2018.

Ghosn berpendapat bahwa para investor telah mencapai batas kesabaran mereka setelah tiga CEO berturut-turut gagal melakukan revitalisasi kinerja Nissan. Dalam rapat umum tahunan perusahaan yang berlangsung Selasa lalu, CEO Nissan, Ivan Espinosa, menghadapi kritik keras dari pemegang saham. Bahkan, terdapat proposal dari salah satu investor untuk memanggil kembali eksekutif yang kini menetap di Lebanon tersebut, meskipun upaya itu gagal karena mayoritas pemegang saham tetap memberikan dukungan kepada dewan direksi saat ini.

Menanggapi situasi tersebut, Ghosn menilai reaksi para investor sebagai bentuk akal sehat yang logis. Ia menyoroti merosotnya harga saham Nissan sebesar 80 persen sejak tahun 2018, penurunan volume penjualan tahunan yang drastis dari 5 juta unit menjadi sekitar 3 juta unit, serta penutupan berbagai pabrik dan pemutusan hubungan kerja sebagai bukti nyata kegagalan manajemen saat ini. Menurutnya, kondisi finansial perusahaan yang semakin melemah adalah konsekuensi dari hilangnya visi strategis perusahaan.

Ghosn, yang sempat menjadi sosok ikonik di Jepang karena keberhasilannya menyelamatkan Nissan dari kebangkrutan pada tahun 1999 melalui aliansi dengan Renault, kini hidup di pengasingan sejak melarikan diri dari Jepang pada akhir 2019. Ia saat itu sedang menanti persidangan atas tuduhan pelanggaran keuangan yang ia bantah dengan keras, di mana ia mengklaim dirinya adalah korban konspirasi pihak internal Nissan dan pejabat Jepang.

Di sisi lain, para analis memandang bahwa tantangan yang dihadapi Nissan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan era kepemimpinan Ghosn. James Hong, seorang analis dari Macquarie, menyebut bahwa keinginan sebagian pemegang saham untuk membawa kembali Ghosn hanyalah bentuk nostalgia terhadap masa kejayaan masa lalu. Ia meragukan efektivitas solusi tersebut mengingat lanskap industri otomotif global telah berubah drastis akibat transisi ke kendaraan listrik dan persaingan ketat dari produsen asal Tiongkok yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan dirinya kembali ke Nissan, Ghosn menegaskan bahwa posisi sebagai penasihat tidaklah cukup. Ia menekankan bahwa perusahaan saat ini berada dalam situasi darurat yang membutuhkan pengambilan keputusan tegas oleh seorang CEO yang memiliki otoritas penuh. Meskipun demikian, pihak Nissan sejauh ini belum memberikan respons resmi terkait pernyataan keras dari mantan pemimpinnya tersebut di tengah upaya manajemen untuk meningkatkan profitabilitas per unit kendaraan.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti pentingnya tata kelola perusahaan (corporate governance) dan tantangan suksesi kepemimpinan dalam menghadapi disrupsi industri. Bagi industri di Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa loyalitas investor sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam beradaptasi dengan perubahan pasar global, seperti transisi kendaraan listrik.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit