Teknologi

Cegah Perundungan dan Kekerasan Remaja, Pemkot Jaksel Luncurkan Kanal Teman Cerita

Ringkasan

  • Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan meluncurkan kanal Teman Cerita, layanan konseling berbasis chat 24 jam yang mempertemukan pelajar dengan konselor sebaya terlatih.
  • Program ini bertujuan mencegah perundungan, kekerasan, seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan melalui Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) resmi meluncurkan kanal Teman Cerita. Inisiatif ini menyediakan ruang aman bagi pelajar untuk bercerita dan berkonsultasi dengan teman sebaya yang telah dibekali pelatihan khusus.

Kepala Sudin PPAPP Jakarta Selatan Rizky Hamid menjelaskan, kanal ini tidak hanya fokus pada kekerasan, tetapi juga mencakup isu bullying, seks bebas, narkoba, kesehatan reproduksi, hingga pendewasaan usia perkawinan. "Bukan hanya terkait kekerasan saja, tetapi juga bullying, kekerasan, seks bebas, narkoba, kesehatan reproduksi, hingga pendewasaan usia perkawinan menjadi objek edukasi anak-anak sebaya ini," ujarnya saat dihubungi, Selasa.

Para konselor sebaya berasal dari siswa yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di masing-masing sekolah. Mereka dipilih dari pengurus OSIS atau perwakilan kelas yang memiliki kepedulian terhadap teman-temannya. Jumlah konselor setiap sekolah tidak dibatasi, namun rata-rata terdiri dari lima hingga tujuh orang.

Sebelum bertugas, para konselor ini mendapatkan pembekalan kemampuan dasar untuk menerima curahan hati teman-temannya sekaligus mengidentifikasi persoalan yang dihadapi. Jika ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut, konselor akan menghubungkan temannya dengan layanan profesional, seperti UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) atau fasilitas kesehatan.

Salah satu keunggulan kanal Teman Cerita adalah aksesibilitasnya. Layanan ini menggunakan sistem percakapan (chat) yang bisa diakses secara gratis selama 24 jam. Dengan demikian, pelajar dapat menyampaikan persoalannya kapan saja tanpa hambatan waktu dan tempat.

Program ini tidak berjalan sendiri. Pemkot Jakarta Selatan menggandeng Suku Dinas Kesehatan, Suku Dinas Pendidikan, serta Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk melakukan sosialisasi secara bertahap ke sekolah-sekolah. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan memperkuat efektivitas program dalam menjangkau lebih banyak siswa.

Langkah Pemkot Jaksel ini menjadi angin segar di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan kasus kekerasan terhadap anak masih tinggi, dan sebagian besar terjadi di lingkungan sekolah. Kanal Teman Cerita hadir sebagai mekanisme deteksi dini dan pencegahan yang melibatkan teman sebaya sebagai garda terdepan.

Dari sisi teknologi, pemanfaatan platform chat yang sudah akrab di kalangan remaja menjadi strategi tepat. Remaja cenderung lebih nyaman membuka masalah melalui pesan teks dibandingkan tatap muka langsung. Hal ini sekaligus menghilangkan stigma untuk mencari bantuan.

"Kita ingin memastikan anak-anak tidak curhat ke orang yang salah. Kalau memang membutuhkan penanganan lebih profesional, nanti akan disalurkan ke layanan yang sesuai," tegas Rizky Hamid. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya literasi kesehatan mental dan akses ke layanan yang tepat.

Ke depannya, sosialisasi akan terus dilakukan ke seluruh sekolah di Jakarta Selatan. Jika program ini berhasil, bukan tidak mungkin model Teman Cerita bisa diadopsi oleh kota atau kabupaten lain di Indonesia. Inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah daerah menggunakan pendekatan berbasis teknologi dan partisipasi remaja untuk menjawab persoalan sosial yang kompleks.

Mengapa Ini Penting

Program Teman Cerita menjadi contoh inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan platform digital untuk menjangkau remaja dengan masalah kesehatan mental dan sosial. Di tengah meningkatnya kasus bullying dan kekerasan di sekolah, keberadaan konselor sebaya yang terlatih dan terhubung dengan layanan profesional bisa menjadi jembatan kritis. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi di kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi problem serupa, sekaligus membangun kepemimpinan dan empati di kalangan pelajar.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
28 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit