Ledakan migrasi di perbatasan selatan Eropa kembali terjadi. Sekitar 60.000 warga Maroko mempertaruhkan nyawa menuju Ceuta, kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara, pekan lalu. Mereka berenang sejauh lima kilometer dari Fnideq, memanjat pemecah gelombang, lalu menerobos pagar ganda berduri. Dalam 48 jam, aparat Spanyol memulangkan lebih dari 48.000 orang ke Maroko. Namun, gelombang besar itu meninggalkan 72 jenazah dan lebih dari seribu orang yang harus menjalani perawatan medis.
Al Jazeera melaporkan, Senin (3/8), angka tersebut dihimpun dari otoritas setempat. Peristiwa ini bukan yang pertama. Ceuta dan Melilla, dua kota otonom Spanyol di Afrika Utara, selalu menjadi pintu masuk utama bagi warga Afrika yang ingin menembus Eropa. Posisi keduanya berada tepat di gerbang Uni Eropa, menjadikannya titik rawan yang terus memanas.
Sejarah Ceuta tidak lepas dari perebutan kekuasaan. Letaknya strategis di dekat Selat Gibraltar membuat wilayah ini jadi incaran banyak kekuatan. Britannica mencatat, Ceuta pernah menjadi pusat perdagangan gading, emas, dan budak. Sebelum Portugis datang, kawasan itu berada di bawah Dinasti Marinid dari Maroko.
Portugal menguasai Ceuta pada 1415, lalu melanjutkan ekspansi ke Tangier, Casablanca, dan Safi. Pada 1580, setelah Raja Philip II naik takhta, Ceuta berpindah ke tangan Spanyol. Ketika Portugal mencoba memisahkan diri pada 1640, penduduk dan bangsawan Ceuta justru memilih bertahan di bawah Spanyol. Kesepakatan itu akhirnya dikukuhkan lewat Perjanjian Lisbon 1668.
Berabad-abad kemudian, Franco menjadikan Ceuta sebagai basis perlawanan dalam Perang Saudara Spanyol. Dia membalas jasanya dengan memperkuat status wilayah itu sebagai bagian dari Spanyol. Sementara itu, Maroko yang baru merdeka pada 1956 tidak pernah menerima klaim tersebut. Hingga kini, Rabat menganggap Ceuta dan Melilla sebagai wilayah yang harus dikembalikan. Spanyol, sebaliknya, justru memberi status kota otonom melalui undang-undang 1995.
Persoalan yang muncul bukan hanya klaim historis. Gelombang migran yang datang terus-menerus menunjukkan kegagalan tata kelola perbatasan yang adil. Uni Eropa selama ini mengandalkan pagar, pendeteksi gerak, dan perjanjian dengan negara asal. Tetapi langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan: ketimpangan ekonomi yang ekstrem antara Afrika dan Eropa. Akibatnya, migran mengambil jalur yang jauh lebih berbahaya.
Korban tewas akibat tenggelam dan terinjak-injak saat memanjat pemecah gelombang menjadi potret betapa mahalnya harga sebuah mimpi. Untuk orang-orang yang datang dari daerah miskin di Maroko dan Afrika sub-Sahara, Ceuta tetaplah gerbang menuju Eropa yang lebih kaya. Risiko kematian tidak menghentikan mereka.
Bagi Indonesia, kejadian ini bukan sekadar berita internasional. Indonesia memiliki ratusan ribu pekerja migran yang bekerja di luar negeri dengan kondisi rentan. Meski pemerintah telah memiliki BP2MI dan berbagai perjanjian bilateral, perlindungan di lapangan masih timpang. Kasus penyiksaan majikan, pemotongan gaji, dan pemulangan paksa masih kerap terdengar. Migrasi yang aman dan bermartabat harus menjadi prioritas agar tragedi kemanusiaan seperti di Ceuta tidak terulang dalam bentuk lain.
Langkah penyelesaian jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan patroli perbatasan. Spanyol dan Maroko perlu membangun kerja sama ekonomi yang memberi alternatif bagi calon migran di negara asal. Uni Eropa pun harus terlibat aktif membantu pembangunan di Afrika Utara. Jika tidak, angka 60.000 orang yang berenang menuju Ceuta akan terus bertambah setiap kali pintu-pintu lain di Eropa semakin tertutup.