Internasional

China Bebaskan Pendeta Gereja Bawah Tanah Ezra Jin Setelah Ditahan Berbulan-bulan

China Bebaskan Pendeta Gereja Bawah Tanah Ezra Jin Setelah Ditahan Berbulan-bulan

Ringkasan

  • Pendeta Ezra Jin, pendiri Zion Church di Beijing, akhirnya dibebaskan dari tahanan China dan tiba di Los Angeles setelah upaya diplomasi tingkat tinggi.

Pemerintah China akhirnya membebaskan Pendeta Jin Mingri, yang lebih dikenal dengan nama Ezra Jin, pendiri Zion Church yang terkemuka di Beijing. Kabar kebebasan ini dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga dan kelompok advokasi hak asasi Kristen, ChinaAid, setelah sang pendeta menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam tahanan.

Ezra Jin dilaporkan telah tiba dengan selamat di Los Angeles, Amerika Serikat, pada tanggal 4 Juli 2026. Ia sebelumnya ditahan di pusat penahanan di kota Beihai, China bagian selatan, sejak Oktober tahun lalu. ChinaAid menyatakan rasa syukur yang mendalam atas pembebasan ini, mengingat posisi Jin sebagai tokoh sentral dalam gerakan gereja rumah atau gereja bawah tanah di China.

Zion Church sendiri merupakan salah satu gereja rumah terbesar di China yang beroperasi tanpa registrasi resmi dari pemerintah. Gereja ini menolak aturan ketat negara yang mewajibkan umat Kristiani untuk beribadah hanya di tempat-tempat yang terdaftar secara resmi. Meskipun lokasi fisik gereja tersebut telah ditutup paksa oleh pihak berwenang pada tahun 2018, mereka tetap teguh melayani ribuan jemaat melalui platform daring.

Penahanan terhadap Jin dan para pemimpin gereja lainnya terjadi dalam gelombang penindakan keras oleh otoritas China tahun lalu. Sebanyak 18 pemimpin gereja ditangkap dengan tuduhan penggunaan jaringan informasi secara ilegal. Kasus ini sempat menarik perhatian dunia internasional setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengangkat isu ini secara langsung dalam pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada bulan Mei lalu.

Pihak keluarga Ezra Jin menyambut kepulangan sang pendeta dengan penuh sukacita dan menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Mereka turut memberikan apresiasi kepada pemerintahan Trump atas upaya diplomasi yang dilakukan. Keluarga berharap bahwa pembebasan ini menjadi pertanda adanya perbaikan iklim kebebasan beragama di China serta kemajuan dalam hubungan bilateral antara kedua negara adidaya tersebut.

Kendati Ezra Jin telah dibebaskan, organisasi Human Rights Watch memberikan catatan kritis terkait nasib anggota jemaat lainnya. Maya Wang, direktur asosiasi Asia di Human Rights Watch, menegaskan bahwa setidaknya masih ada delapan anggota Zion Church yang berada dalam tahanan. Ia mendesak pemerintah China untuk segera membebaskan sisa jemaat tersebut demi menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan beribadah.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti bagaimana dinamika politik global dan diplomasi tingkat tinggi dapat memengaruhi kebijakan internal suatu negara terkait hak asasi manusia. Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini menjadi refleksi penting mengenai tantangan kebebasan beragama dan bagaimana penggunaan teknologi digital digunakan oleh komunitas minoritas untuk tetap bertahan di tengah tekanan regulasi yang ketat.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit