Bank Sentral China (PBOC) kembali mencatatkan aksi pembelian emas secara konsisten selama 20 bulan berturut-turut hingga akhir Juni. Berdasarkan data terbaru, China menambah cadangan emasnya sebanyak 480.000 troy ounce atau sekitar 14,93 ton. Langkah strategis ini mengukuhkan posisi cadangan emas negara tersebut menjadi 75,44 juta troy ounce atau setara dengan 2.346 ton.
Aksi akumulasi ini menandai periode pembelian terpanjang yang dilakukan oleh otoritas moneter China sejak tahun 2015. Kebijakan ini mencerminkan langkah serius Beijing dalam mendiversifikasi portofolio cadangan devisa nasional di tengah dinamika ekonomi global yang menantang. Meskipun demikian, menurut World Gold Council, porsi emas dalam total cadangan devisa China saat ini masih di bawah 10 persen.
Di sisi lain, cadangan devisa China tercatat berada di angka US$3,4163 triliun pada akhir Juni, mengalami penurunan sebesar US$26 miliar atau sekitar 0,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Data dari State Administration of Foreign Exchange ini menunjukkan adanya penyesuaian aset di tengah volatilitas pasar global yang terus berlanjut.
Para analis menilai bahwa logam mulia kini dipandang sebagai aset yang jauh lebih aman dibandingkan mata uang fiat. Emas dianggap mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sanksi ekonomi, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian dalam sistem keuangan Amerika Serikat. Strategi ini secara luas dipahami sebagai bagian dari upaya jangka panjang Beijing untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS atau dedolarisasi.
Sementara itu, harga emas di pasar spot sempat diperdagangkan di kisaran US$4.140 per ounce pada perdagangan Selasa, setelah sebelumnya mengalami sedikit penurunan dari level tertingginya dalam dua pekan terakhir. Meski sempat terkoreksi, harga emas tercatat telah menguat lebih dari 3 persen dari level terendah pada akhir Juni lalu.
Ke depan, pasar masih akan terus memantau pergerakan harga emas yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat. Profit-taking atau aksi ambil untung oleh pelaku pasar sempat terjadi menyusul penguatan dolar AS menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve. Namun, tren pembelian oleh bank sentral seperti China diprediksi akan terus menjadi katalis utama yang menjaga stabilitas harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.