Internasional

Dari Maradona ke Messi: Mengapa Bangladesh Sangat Mencintai Timnas Argentina

Dari Maradona ke Messi: Mengapa Bangladesh Sangat Mencintai Timnas Argentina

Ringkasan

  • Fenomena unik di Bangladesh di mana ribuan warga merayakan kemenangan timnas Argentina dengan penuh antusiasme layaknya di negara asalnya.

Dhaka, Bangladesh — Suasana di ibu kota Bangladesh mendadak berubah menjadi lautan warna biru langit dan putih. Meskipun layar raksasa telah padam, ribuan pendukung tetap meneriakkan nama Argentina dan Lionel Messi dengan penuh semangat. Pemandangan ini bukanlah di Buenos Aires, melainkan di Dhaka, yang berjarak sekitar 17.000 kilometer dari tanah kelahiran sang mega bintang. Antusiasme yang luar biasa ini menunjukkan betapa dalamnya ikatan emosional warga Bangladesh terhadap tim nasional Argentina.

Bangladesh sendiri belum pernah mencatatkan diri tampil di putaran final Piala Dunia FIFA. Namun, setiap empat tahun sekali, negara ini seolah ikut berkompetisi. Kampus-kampus, lingkungan perumahan, hingga jalanan di berbagai penjuru kota akan dipenuhi dengan dekorasi warna kebanggaan Argentina. Nonton bareng (nobar) menjadi tradisi wajib yang mempererat solidaritas para pendukung di Bangladesh saat tim idola mereka berlaga.

Bagi Abdul Hai, pria berusia 50 tahun asal Dhaka, kecintaan ini telah terpupuk jauh sebelum era Lionel Messi. Ia menceritakan bahwa semuanya bermula pada Piala Dunia 1986, ketika Diego Maradona memimpin Argentina meraih gelar juara. Gaya bermain, karisma, hingga kemampuan teknis Maradona di lapangan hijau membuat masyarakat Bangladesh terpesona. Legenda tersebut menjadi sosok ikonik yang memperkenalkan sepak bola Argentina kepada generasi masa itu.

Keberhasilan Lionel Messi membawa pulang trofi Piala Dunia di Qatar pada 2022 menjadi puncak dari penantian panjang para penggemar di Bangladesh. Abdul Hai mengungkapkan bahwa kemenangan tersebut memberikan kepuasan tersendiri, mengubah rasa cemas yang biasanya dirasakan pendukung di turnamen-turnamen sebelumnya menjadi sukacita mendalam. Momen Messi mengangkat trofi dianggap sebagai akhir dari penantian yang sangat berharga bagi para suporter setia.

Mantan pemain dan pelatih tim nasional Bangladesh, Shafiqul Islam Manik, menjelaskan bahwa fenomena dukungan ini berakar dari kejayaan Maradona pada 1986. Kemenangan Argentina atas Inggris pasca-Perang Falklands serta kecemerlangan individu Maradona menjadi katalis utama. Argentina perlahan namun pasti mulai membangun basis penggemar yang solid, bahkan mampu menjadi penyeimbang dominasi pendukung Brasil di Bangladesh.

Lebih lanjut, Manik menyoroti bahwa momen emosional saat Maradona menangis setelah kalah di final 1990 justru semakin memperkuat ikatan batin suporter Bangladesh dengan tim Argentina. Kesedihan tersebut dirasakan oleh para pendukung di sana sebagai bentuk perjuangan yang manusiawi, yang kemudian mengukuhkan loyalitas mereka secara permanen hingga saat ini.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti kekuatan fenomena budaya dan loyalitas penggemar lintas negara yang dipicu oleh pengaruh tokoh olahraga global. Bagi industri media dan pemasaran di Indonesia, fenomena ini menjadi studi kasus penting tentang bagaimana keterikatan emosional dengan figur publik internasional dapat menciptakan basis komunitas yang sangat besar dan loyal di pasar berkembang.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
2 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit