Internasional

PBB Keluarkan Peringatan Darurat Atas Krisis Kemanusiaan di El-Obeid, Sudan

PBB Keluarkan Peringatan Darurat Atas Krisis Kemanusiaan di El-Obeid, Sudan

Ringkasan

  • PBB mengeluarkan peringatan darurat atas krisis kemanusiaan di El-Obeid, Sudan, akibat ancaman serangan militer yang mengancam ratusan ribu warga sipil.

Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Turk, secara resmi mengeluarkan peringatan "red alert" atau siaga merah terkait situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di kota El-Obeid, Sudan. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran mendalam mengenai serangan militer yang akan segera diluncurkan oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) terhadap wilayah tersebut.

Dalam debat mendesak di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa pada hari Jumat, Turk mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil tindakan diplomatik guna mencegah terjadinya kekejaman massal. Ia menegaskan bahwa tanda-tanda krisis kemanusiaan di ibu kota negara bagian Kordofan Utara ini sudah sangat jelas dan tidak dapat diabaikan lagi oleh komunitas internasional.

Selama 18 bulan terakhir, penduduk sipil di El-Obeid telah hidup dalam kondisi seperti terkepung. Mereka terus-menerus menjadi sasaran serangan drone mematikan di tengah pertempuran sengit antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF. Perebutan kendali atas wilayah strategis ini telah melumpuhkan kehidupan warga dan menciptakan ancaman eksistensial bagi sekitar setengah juta penduduk kota tersebut.

Turk menekankan bahwa situasi ini bukanlah sekadar simulasi, melainkan krisis nyata yang membutuhkan perhatian segera dari para kepala negara di seluruh dunia. Ia mendesak pemerintah berbagai negara untuk aktif berkomunikasi dan merumuskan strategi konkret guna menghentikan potensi kejahatan perang yang dapat terjadi dalam beberapa hari atau minggu mendatang di wilayah Kordofan.

Konflik di Sudan yang pecah sejak April 2023 telah menjadikan wilayah Kordofan sebagai medan pertempuran utama karena kekayaan cadangan minyak dan posisi strategisnya yang menghubungkan wilayah Darfur dengan kawasan timur yang dikuasai tentara. El-Obeid sendiri menampung sekitar 100.000 pengungsi perang, menjadikannya titik paling rentan di tengah eskalasi militer yang kian brutal.

Data dari kantor HAM PBB mencatat bahwa antara tanggal 6 hingga 28 Juni, setidaknya 45 orang tewas dan 41 lainnya terluka akibat 15 serangan drone terpisah. Serangan ini juga telah menghancurkan infrastruktur vital, termasuk stasiun pembangkit listrik dan depot bahan bakar, yang menyebabkan krisis air bersih serta kegelapan massal di berbagai lingkungan perumahan.

Mengapa Ini Penting

Krisis di Sudan memiliki dampak global terhadap stabilitas geopolitik dan rantai pasok energi yang dapat memengaruhi harga komoditas dunia, termasuk bagi Indonesia. Selain itu, sebagai negara yang aktif dalam misi perdamaian dunia, situasi ini menjadi pengingat penting bagi diplomasi Indonesia untuk terus mendorong penyelesaian konflik berbasis kemanusiaan di forum multilateral.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit