Internasional

Friedrich Merz Tegaskan Jerman Siap Perkuat Pertahanan di Tengah Kritik Donald Trump

Friedrich Merz Tegaskan Jerman Siap Perkuat Pertahanan di Tengah Kritik Donald Trump

Ringkasan

  • Kanselir Jerman Friedrich Merz membela komitmen anggaran pertahanan negaranya setelah dikritik oleh Presiden AS Donald Trump sebagai langkah yang konyol.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara tegas menyatakan bahwa Jerman tidak perlu merasa canggung dalam memaparkan rekam jejak pengeluaran pertahanannya. Pernyataan ini disampaikan Merz pada Jumat lalu sebagai respons langsung terhadap kritik yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut upaya pertahanan Jerman di masa lalu sebagai sesuatu yang konyol.

Isu mengenai anggaran pertahanan menjadi sorotan utama menjelang pertemuan para pemimpin NATO di Ankara pekan depan. Di tengah ketegangan yang ada, negara-negara Eropa berupaya mengesampingkan perselisihan dengan Trump terkait kebijakan luar negeri lainnya, seperti isu Iran dan Greenland, untuk menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga keamanan benua Eropa.

Dalam keterangannya kepada awak media, Merz menegaskan bahwa Jerman saat ini sedang melakukan langkah besar dengan menggandakan anggaran pertahanannya dalam kurun waktu empat tahun. Menurutnya, ini merupakan upaya terbesar yang pernah dilakukan Jerman untuk memperkuat kapabilitas pertahanan nasionalnya. Oleh karena itu, Jerman merasa tidak perlu malu atau takut untuk membela diri di hadapan sekutu internasional mana pun.

Merz menambahkan bahwa Jerman menjalankan perannya sebagai negara anggota terbesar di Uni Eropa dengan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa posisi Jerman dalam arsitektur keamanan Eropa sangat krusial, dan pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan kontribusi pertahanan guna memastikan stabilitas kawasan tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu.

Sebelumnya, Donald Trump melalui media sosial melontarkan kritik keras terhadap catatan pengeluaran pertahanan sekutu-sekutu NATO. Trump menyebut hubungan pertahanan saat ini tidak berjalan secara timbal balik dan menilai pengeluaran Jerman antara tahun 2014 hingga 2025 jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat maupun negara anggota NATO lainnya. Trump bahkan menggunakan kata "konyol" untuk menggambarkan ketimpangan kontribusi tersebut.

Menanggapi tantangan tersebut, para pemimpin NATO sebenarnya telah menyepakati komitmen baru di Den Haag tahun lalu. Kesepakatan tersebut menetapkan target bagi setiap negara anggota untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan menjadi 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kebutuhan inti seperti persenjataan dan personel militer pada tahun 2035, meningkat signifikan dari target sebelumnya yang hanya sebesar 2 persen.

Mengapa Ini Penting

Perselisihan ini menyoroti ketegangan dalam aliansi keamanan global yang dapat memicu perubahan kebijakan pertahanan internasional. Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat pentingnya kemandirian pertahanan dan perlunya memantau stabilitas ekonomi global yang terdampak oleh kebijakan proteksionisme negara maju.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit