Kuasa Usaha ad Interim Amerika Serikat untuk Caracas, John Barrett, mengonfirmasi bahwa sektor minyak dan gas (migas) Venezuela tetap beroperasi normal dan tidak terdampak oleh bencana gempa bumi kembar yang melanda negara tersebut pada 24 Juni lalu. Meskipun infrastruktur di berbagai wilayah mengalami kerusakan parah, Barrett menegaskan bahwa fasilitas vital energi tetap terjaga stabilitasnya.
Dalam konferensi pers yang digelar baru-baru ini, Barrett mengakui bahwa upaya pemulihan pasca-bencana akan memakan biaya yang sangat besar bagi pemerintah Venezuela. Kendati demikian, ia menyatakan rasa lega karena sektor migas, yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut, tidak mengalami kehancuran fisik yang berarti akibat guncangan gempa.
Sejak perubahan kepemimpinan di Venezuela pada Januari lalu, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyatakan komitmennya untuk membantu mengelola sektor migas negara tersebut. Barrett menambahkan bahwa produksi minyak mentah di Venezuela kini menunjukkan tren peningkatan yang stabil, didorong oleh dukungan investasi dari pihak swasta dan kerja sama strategis dengan Amerika Serikat.
Untuk mendukung pemulihan nasional, pemerintah AS melalui Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri tengah berkoordinasi untuk menyalurkan pendapatan dari sektor migas guna membiayai rekonstruksi pasca-bencana. Dana tersebut difokuskan pada penyediaan hunian sementara, perbaikan sistem sanitasi, pemulihan layanan kesehatan, serta pemulihan jaringan pembangkit energi yang terdampak gempa.
Di sisi lain, Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, melaporkan situasi kemanusiaan yang memprihatinkan dengan jumlah korban jiwa yang mencapai 2.595 orang, sementara 12.400 lainnya mengalami luka-luka. Proses evakuasi terus dilakukan, di mana tim penyelamat berhasil mengeluarkan 6.462 orang dari reruntuhan bangunan, sementara puluhan ribu warga kini masih menempati posko pengungsian sementara.
Respons internasional terhadap bencana ini terbilang masif, dengan masuknya bantuan kemanusiaan sebesar 7.063 ton dari berbagai negara. Selain itu, sebanyak 4.099 petugas penyelamat internasional telah dikerahkan untuk membantu mempercepat proses pencarian dan penanganan di lapangan, guna memastikan stabilitas wilayah dapat segera pulih di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kemanusiaan yang masif.