Otoritas kesehatan dan pertanian di Negara Bagian New South Wales (NSW), Australia, secara resmi mengumumkan deteksi kasus suspek flu burung dengan galur H5N1 yang sangat patogenik. Temuan ini menjadi perhatian serius karena merupakan laporan pertama di kawasan pesisir timur Australia, yang menandai perluasan jangkauan penyebaran virus tersebut di benua tersebut.
Menteri Pertanian NSW, Tara Moriarty, menjelaskan bahwa temuan ini bermula dari seekor burung petrel raksasa migran yang ditemukan dalam kondisi sakit di dekat Hawks Nest, sebuah kota pesisir yang terletak sekitar 165 kilometer di timur laut Sydney. Pengujian laboratorium awal terhadap sampel burung tersebut menunjukkan hasil positif untuk galur H5N1 yang mematikan.
Sebagai langkah prosedur standar, sampel tersebut kini telah dikirim ke lembaga ilmu pengetahuan nasional untuk menjalani pengujian konfirmasi lebih lanjut. Jika hasil pengujian laboratorium nasional nantinya menyatakan positif, maka kasus ini akan tercatat sebagai insiden keenam H5N1 di daratan utama Australia, sekaligus menjadi yang pertama di wilayah pesisir timur.
Sebelumnya, lima kasus serupa telah terdeteksi pada burung migran di wilayah Australia Barat dan Australia Selatan sepanjang bulan Juni. Pemerintah NSW menegaskan bahwa mereka telah berkomunikasi secara intensif dengan pelaku industri unggas lokal guna memitigasi potensi risiko penyebaran yang lebih luas ke peternakan komersial.
Meski demikian, Menteri Moriarty berupaya menenangkan masyarakat dengan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak buruk terhadap industri unggas di NSW. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tetap mengonsumsi produk telur serta daging ayam seperti biasa karena rantai pasok dinilai masih aman dan terkendali.
Kepala Petugas Veteriner NSW, Jo Coombe, menambahkan bahwa otoritas Australia telah melakukan persiapan matang selama bertahun-tahun untuk mengantisipasi ancaman wabah flu burung ini. Mengingat Australia sebelumnya merupakan satu-satunya benua yang bebas dari galur yang telah menyebabkan kematian jutaan burung di seluruh dunia sejak 2020 ini, kewaspadaan tinggi tetap diterapkan oleh semua pihak terkait.