Gaya Hidup

Dilema Body Shaming: Dulu Disebut Anoreksia, Kini Dikritik Karena Berat Badan

Dilema Body Shaming: Dulu Disebut Anoreksia, Kini Dikritik Karena Berat Badan

Ringkasan

  • Jillian Lim berbagi pengalaman pahitnya menghadapi body shaming seumur hidup, mulai dari dikritik karena terlalu kurus hingga kini dikritik setelah berat badannya naik.

Pengalaman hidup Jillian Lim mencerminkan realita pahit tentang bagaimana masyarakat sering kali merasa berhak menghakimi bentuk tubuh seseorang. Sejak masa kanak-kanak, Jillian terus-menerus ditekan untuk makan lebih banyak oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan di bangku sekolah dasar, ia pernah diikutsertakan dalam program susu khusus untuk anak-anak dengan berat badan di bawah rata-rata. Meski telah menjalani berbagai pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi kesehatannya normal, tekanan sosial untuk mengubah fisiknya tidak pernah berhenti.

Memasuki masa remaja, tantangan yang dihadapi Jillian justru semakin kompleks. Ia tidak hanya menghadapi tekanan keluarga, tetapi juga tatapan serta komentar tidak menyenangkan dari teman-teman sebayanya. Dengan indeks massa tubuh (BMI) yang rendah, ia sering menjadi target lelucon mengenai bentuk tubuhnya yang sangat kurus. Komentar-komentar seperti disamakan dengan benda tipis atau lelucon mengenai ukuran dada menjadi makanan sehari-hari yang merusak kepercayaan dirinya.

Bertekad untuk memenuhi ekspektasi sosial, Jillian melakukan berbagai upaya ekstrem demi menaikkan berat badan. Ia mulai mengonsumsi porsi makan ganda, menyantap makanan cepat saji secara rutin, hingga meminum suplemen protein beberapa kali sehari. Namun, setiap langkah yang ia ambil justru memicu komentar baru dari orang tuanya, yang merasa heran dengan nafsu makannya yang meningkat drastis. Upaya tersebut menunjukkan betapa sulitnya seseorang yang terus-menerus disorot karena kondisi fisiknya.

Kini, di usia pertengahan 30-an, Jillian akhirnya berhasil mencapai berat badan yang lebih ideal. Namun, alih-alih mendapatkan penerimaan, ia justru menghadapi bentuk diskriminasi baru, yakni fat-shaming. Situasi ini membuktikan bahwa bagi banyak orang, standar kecantikan sering kali menjadi alat untuk mengontrol dan mengkritik tubuh wanita, terlepas dari apakah tubuh tersebut kurus atau berisi.

Perjalanan panjang Jillian menyoroti bagaimana standar kecantikan yang tidak realistis di media, terutama tren tahun 90-an yang memuja tubuh sangat kurus, telah membentuk pola pikir masyarakat yang sangat kritis terhadap perbedaan fisik. Hingga saat ini, ia masih harus berjuang untuk membela haknya atas tubuhnya sendiri. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa komentar mengenai berat badan orang lain, meskipun dianggap sebagai kepedulian, sering kali bersifat merusak.

Pada akhirnya, kisah ini adalah tentang perjuangan untuk mendapatkan otonomi atas tubuh sendiri di tengah budaya yang obsesif terhadap penampilan. Jillian merefleksikan bahwa meskipun ia telah melalui banyak perubahan fisik, ia tetap menjadi target penilaian orang lain. Tulisan ini mengajak masyarakat untuk lebih peka dan berhenti mengomentari bentuk tubuh orang lain, karena setiap individu memiliki perjalanan kesehatan yang unik dan tidak perlu dihakimi oleh standar eksternal.

Mengapa Ini Penting

Isu body shaming tetap menjadi masalah sosial yang relevan di Indonesia, terutama dengan maraknya budaya media sosial yang mengedepankan penampilan fisik. Pemahaman mengenai dampak psikologis dari komentar fisik sangat krusial untuk membangun lingkungan digital yang lebih inklusif dan suportif bagi semua kalangan.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit