Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I yang baru dilantik, Abdul Rivai Ras, secara resmi mencanangkan lima pilar transformasi strategis guna memperkuat tata kelola serta daya saing perusahaan di sektor agribisnis. Langkah ini diambil sebagai upaya adaptasi korporasi dalam menghadapi tantangan industri global yang semakin dinamis.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rivai menegaskan bahwa transformasi yang diusung mencakup penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance), manajemen risiko, transformasi digital, optimalisasi aset, serta penguatan hubungan kelembagaan. Kelima pilar ini diproyeksikan sebagai fondasi utama bagi PTPN I untuk bertransformasi menjadi korporasi agribisnis yang modern, profesional, dan adaptif.
Menurut Rivai, tantangan sektor perkebunan saat ini telah bergeser melampaui sekadar peningkatan volume produksi. Perusahaan dituntut untuk mampu merespons perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas internasional, hingga tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin ketat di pasar global.
Sebagai bukti keseriusan dalam mitigasi risiko, PTPN I telah membentuk Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko dalam struktur direksi baru. Langkah ini mencerminkan pendekatan strategis perusahaan dalam mengelola aset negara secara akuntabel, transparan, dan disiplin di tengah ketidakpastian regulasi maupun dinamika pasar.
Di sisi lain, transformasi digital tidak hanya dipandang sebagai adopsi teknologi semata, melainkan sebagai upaya fundamental dalam mengubah budaya kerja dan mempercepat pengambilan keputusan berbasis data. Digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan di seluruh lini bisnis perusahaan.
Terakhir, Rivai menekankan bahwa optimalisasi aset menjadi agenda krusial agar seluruh sumber daya yang dikelola memberikan nilai ekonomi maksimal bagi negara dan masyarakat luas. Keberhasilan agenda ini sangat bergantung pada kolaborasi sinergis antara PTPN I dengan pemerintah, regulator, akademisi, serta pemangku kepentingan strategis lainnya.