Seorang dokter di Hong Kong dilaporkan menghadapi proses hukum setelah diduga menerbitkan lebih dari 3.700 surat keterangan pengecualian vaksin COVID-19 secara ilegal. Praktik ini berlangsung selama kurun waktu tujuh bulan di tengah puncak pandemi, di mana sang dokter memberikan akses kepada warga untuk menghindari kewajiban vaksinasi dengan alasan medis yang tidak valid, seperti alergi kulit hingga nyeri dada.
Dr. Tai Kong-shing, seorang dokter medis berusia 80 tahun, mulai menjalani persidangan di Pengadilan Distrik pada hari Senin. Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa sang dokter diduga melakukan pelanggaran masif dengan menerbitkan total 3.713 surat keterangan melalui sistem rekam medis elektronik pemerintah di kliniknya. Tindakan tersebut dilakukan dalam kurun waktu antara 10 Februari hingga 20 September 2022.
Dalam dakwaannya, pihak jaksa menyatakan bahwa Dr. Tai tidak melakukan pemeriksaan atau diagnosis medis yang layak sebelum mengeluarkan surat-surat tersebut. Praktik ini diduga dijalankan demi keuntungan pribadi, di mana pasien bisa mendapatkan pengecualian vaksinasi tanpa melalui prosedur kesehatan yang semestinya. Hal ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap integritas sistem kesehatan publik di Hong Kong selama masa krisis.
Selain dakwaan terkait pemalsuan surat keterangan, Dr. Tai juga menghadapi tuduhan tindak pidana pencucian uang. Jaksa menuduh sang dokter telah mencuci uang tunai serta simpanan bank senilai HK$10,96 juta atau setara dengan US$1,39 juta. Dana tersebut diduga merupakan hasil dari skema ilegal yang ia jalankan selama periode tersebut.
Dalam persidangan, Dr. Tai membantah seluruh tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia menyatakan tidak bersalah atas satu dakwaan mengakses komputer dengan niat tidak jujur, 13 dakwaan alternatif dengan pelanggaran serupa, serta tiga dakwaan terkait pencucian uang. Persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ernest Michael Lin Kam-hung ini dijadwalkan akan berlangsung selama 20 hari ke depan guna mendalami bukti-bukti yang ada.
Selain sang dokter, seorang pedagang berusia 61 tahun bernama Kriselle Young juga ikut terseret dalam kasus ini. Ia menghadapi satu dakwaan terkait mengakses komputer dengan niat tidak jujur. Kasus ini menjadi sorotan utama di Hong Kong karena melibatkan penyalahgunaan sistem digital pemerintah untuk kepentingan pribadi yang membahayakan kesehatan masyarakat luas.