Tim dosen dari Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, melakukan langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan pertanian lokal melalui pengembangan sistem agrosilvopastura. Pendekatan ini mengintegrasikan sektor kehutanan, pertanian, dan peternakan ke dalam satu ekosistem yang saling mendukung, guna menciptakan produktivitas lahan yang lebih optimal dan ramah lingkungan.
Ketua tim pengabdian, Firdaus Husein, menjelaskan bahwa inti dari inovasi ini adalah pengolahan limbah menjadi pupuk organik berkualitas. Bahan baku yang digunakan meliputi kotoran sapi, limbah kelapa sawit seperti tandan kosong dan lumpur sawit, serta penambahan biochar. Biochar, yang dihasilkan dari pembakaran limbah sawit pada suhu 300 derajat Celcius, berfungsi krusial dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara serta memperbaiki struktur fisik, kimia, dan biologi tanah.
Proses pembuatan pupuk ini melibatkan fermentasi selama 21 hari dengan bantuan mikroorganisme lokal yang berasal dari ekstrak kulit nanas sebagai agen pengurai alami. Setelah proses fermentasi selesai, bahan-bahan tersebut kemudian diproses menggunakan mesin granulator dan diperkaya dengan biochar serta tapioka untuk menghasilkan pupuk organik yang kokoh dan siap diaplikasikan pada lahan pertanian.
Pengujian laboratorium terhadap pupuk organik hasil inovasi ini menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan kandungan nitrogen sebesar 2,8 persen, fosfor 1,1 persen, dan kalium 3,56 persen. Tingkat kandungan nutrisi ini dinilai sangat memadai untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal sekaligus berperan aktif dalam memulihkan kesuburan tanah dalam jangka panjang bagi para petani di wilayah tersebut.
Kegiatan pengabdian yang bermitra dengan Kelompok Tani Sumber Usaha Muda ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sintetis. Melalui program yang didanai oleh hibah BIMA dari Kemendiktisaintek tahun 2026 ini, tim dosen yang beranggotakan Ika Fitirani Dyah Ratnasari dan Erlina Astuti tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan Kalimantan.
Lebih jauh, inisiatif ini merupakan perwujudan nyata dari penerapan ekonomi sirkular di sektor pertanian. Dengan mengubah limbah peternakan dan perkebunan menjadi sumber daya produktif, sistem agrosilvopastura membuktikan bahwa kemajuan ekonomi sektor pertanian dapat berjalan beriringan dengan pelestarian aset ekologi hutan, sekaligus memberikan solusi praktis bagi tantangan kesuburan tanah di daerah.