CEO Kadokawa, Takeshi Natsuno, menghadapi tantangan signifikan setelah dukungan pemegang saham terhadap dirinya merosot tajam dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan yang digelar di Tokyo. Meskipun Natsuno berhasil mempertahankan posisinya di jajaran direksi, angka dukungan yang diperoleh hanya mencapai 59,68 persen. Angka ini mencerminkan penurunan drastis jika dibandingkan dengan perolehan suara tahun lalu yang mencapai 90 persen, sebuah sinyal ketidakpuasan yang kuat dari para investor.
Kampanye untuk melengserkan Natsuno dimotori oleh investor aktivis, termasuk Oasis Management yang berbasis di Hong Kong. Oasis berargumen bahwa kinerja profitabilitas perusahaan terus menurun di bawah kepemimpinan Natsuno. Tekanan ini juga diperkuat oleh rekomendasi dari penasihat proksi yang menyarankan pemegang saham untuk tidak memberikan suara bagi pemilihan kembali Natsuno, menyoroti meningkatnya tren investor di Jepang yang semakin berani menuntut perubahan di tingkat eksekutif puncak.
Dalam merespons hasil RUPS tersebut, pihak Kadokawa menyatakan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur manajemen, kebijakan kompensasi eksekutif, serta progres rencana bisnis jangka menengah perusahaan. Dewan direksi sebelumnya sempat memperingatkan bahwa penggantian Natsuno secara mendadak tanpa rencana suksesi yang jelas dapat memicu ketidakpastian operasional bagi raksasa anime dan gim tersebut.
Kinerja keuangan Kadokawa memang menjadi sorotan utama, terutama dengan angka return on equity (ROE) yang merosot menjadi 0,5 persen tahun lalu, jauh di bawah angka 9,4 persen yang tercatat pada tahun fiskal 2022. Perusahaan saat ini sedang berupaya keras untuk mencapai target ROE minimal 12 persen. Manajemen mengakui adanya tantangan besar, termasuk ketergantungan yang berlebihan pada subgenre anime isekai serta membengkaknya biaya produksi konten animasi.
Analisis pasar menunjukkan bahwa fenomena di Kadokawa ini menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan lain di Jepang. Travis Lundy, seorang analis, menyatakan bahwa manajemen perusahaan kini harus lebih waspada karena investor aktivis semakin agresif dalam menuntut tata kelola yang lebih baik. Strategi pertahanan utama bagi perusahaan-perusahaan ini adalah dengan meningkatkan nilai saham melalui kinerja yang lebih solid dan efisiensi operasional.
Ke depannya, tekanan dari aktivis investor diprediksi akan terus berlanjut di pasar modal Jepang. Kasus-kasus serupa, seperti upaya Oasis Management terhadap Kyocera atau keterlibatan Kaname Capital di perusahaan farmasi Cawachi, menunjukkan bahwa era di mana manajemen perusahaan dapat beroperasi tanpa pengawasan ketat dari pemegang saham telah berakhir. Fokus Kadokawa kini adalah membuktikan bahwa kepemimpinan Natsuno masih mampu membalikkan keadaan sebelum tekanan investor mencapai titik didih.