Duta Besar Iran untuk Tiongkok, Abdolreza Rahmani Fazli, baru-baru ini menegaskan bahwa Iran akan memberlakukan biaya layanan baru bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang masih menyelimuti kawasan tersebut, meskipun sempat ada upaya diplomatik untuk meredakan permusuhan melalui kesepakatan awal antara Iran dan Amerika Serikat bulan lalu.
Dalam pidatonya di World Peace Forum di Beijing, Fazli menekankan bahwa kebijakan baru ini merupakan bagian dari pengaturan keamanan dan pengawasan yang lebih ketat. Ia secara khusus menyebutkan bahwa negara-negara yang dianggap 'bersahabat', termasuk Tiongkok, akan mendapatkan perlakuan khusus terkait penentuan tarif dan jenis biaya layanan yang dikenakan. Langkah ini dipandang sebagai upaya Iran untuk memperkuat pengaruhnya di jalur perdagangan energi global yang krusial.
Amerika Serikat sendiri telah menyatakan keberatan keras atas rencana tersebut. Washington bersikeras bahwa berdasarkan kesepakatan akhir nantinya, Iran tidak diizinkan untuk memungut tol atau biaya tambahan bagi kapal-kapal yang melintas. Meskipun demikian, pemerintah Iran bersikukuh bahwa biaya tersebut bukanlah 'tol', melainkan biaya operasional untuk menjamin keamanan, pengawasan lalu lintas kapal, dan penanganan dampak lingkungan di wilayah perairan tersebut.
Iran saat ini diketahui sedang bekerja sama secara intensif dengan Oman untuk merumuskan pengaturan operasional di Selat Hormuz. Kedua negara, yang terletak di sisi berlawanan dari selat tersebut, telah membentuk komite bersama untuk mengelola jalur perairan strategis ini. Kerjasama ini dinilai sebagai langkah taktis untuk mengonsolidasikan kontrol atas jalur yang dilalui oleh seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Situasi di Selat Hormuz telah mengalami dinamika yang signifikan sejak pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu. Penutupan sementara selat oleh Iran selama masa konflik telah memicu lonjakan harga energi global yang drastis. Sebagai respons, Amerika Serikat sempat memberlakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan selatan Iran pada bulan April untuk membatasi ekspor minyak negara tersebut.
Ke depannya, ketidakpastian masih menyelimuti kebijakan yang akan berlaku setelah periode 60 hari masa transisi kesepakatan saat ini berakhir. Negosiasi mengenai penyelesaian permanen masih terus berlangsung, namun perbedaan posisi antara Iran dan AS menunjukkan bahwa Selat Hormuz akan tetap menjadi titik panas geopolitik yang menentukan stabilitas ekonomi global serta keamanan pasokan energi internasional untuk waktu yang cukup lama.