Penyerang tim nasional Inggris, Eberechi Eze, menyatakan tidak ambil pusing dengan kritik tajam yang dilayangkan publik setelah hasil imbang tanpa gol melawan Ghana di ajang Piala Dunia. Pemain berusia 27 tahun ini menegaskan bahwa ia lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada arahan dan opini internal tim, yang menurutnya menjadi satu-satunya hal yang relevan bagi skuad The Three Lions saat ini.
Inggris kini bersiap menghadapi Panama pada laga pamungkas Grup L hari Sabtu mendatang dengan ambisi besar untuk mengamankan posisi puncak klasemen. Meskipun performa tim sempat menuai kekecewaan dari para pendukung akibat minimnya kreativitas serangan saat menghadapi Ghana, Eze tetap tenang dan yakin dengan proses yang sedang dijalani oleh rekan-rekan setimnya di dalam pemusatan latihan.
Eze, yang mencatatkan debut Piala Dunia sebagai pemain pengganti di babak kedua kontra Ghana, menekankan pentingnya menjaga mentalitas di dalam gelembung tim. Baginya, menjadi pemain yang berada langsung di lapangan memberikan perspektif berbeda dibandingkan dengan komentar-komentar yang muncul di luar arena pertandingan. Ia percaya bahwa kerja keras yang dilakukan di balik layar akan membuahkan hasil yang diinginkan.
Menilik perjalanan kariernya, Eze mengakui bahwa kesabaran telah menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan profesional. Pengalaman selama membela Arsenal, di mana ia harus menunggu momentum yang tepat untuk berkontribusi, telah membentuk karakternya menjadi lebih tangguh dan siap kapan pun dibutuhkan oleh pelatih untuk memberikan dampak signifikan dalam permainan.
Kehadiran rekan setim di Arsenal seperti Bukayo Saka, Declan Rice, dan Noni Madueke dalam skuad Inggris memberikan tambahan rasa percaya diri yang besar. Eze berpendapat bahwa keberhasilan memenangkan gelar liga domestik baru-baru ini telah menciptakan atmosfer positif dan keyakinan kolektif, sehingga setiap pemain merasa lebih nyaman dalam mengeluarkan potensi terbaik mereka di level internasional yang lebih kompetitif.
Di luar lapangan, Eze menyebut dukungan sang istri yang berprofesi sebagai perawat unit perawatan intensif (ICU) sangat membantunya untuk tetap membumi. Perspektif kehidupan nyata yang diberikan sang istri menjadi pengingat berharga baginya dalam memandang karier sepak bola, sehingga ia mampu menjaga fokus dan keseimbangan mental meski berada di bawah tekanan besar ajang turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.