Bisnis & Startup

Ekonom: Fundamental Ekspor Indonesia Masih Tangguh Meski Terkontraksi

Ekonom: Fundamental Ekspor Indonesia Masih Tangguh Meski Terkontraksi

Ringkasan

  • Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kontraksi ekspor nonmigas Mei 2026 bersifat selektif dan tidak mencerminkan pelemahan daya saing nasional secara menyeluruh.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa fondasi ekspor Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kontraksi ekspor nonmigas sebesar 4,5 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Yusuf menegaskan bahwa pelemahan kinerja ekspor pada bulan Mei tersebut tidak merefleksikan penurunan daya saing secara menyeluruh di semua sektor komoditas. Sebaliknya, tekanan yang terjadi dinilai bersifat terkonsentrasi pada beberapa komoditas unggulan tertentu saja. Secara kumulatif, kinerja ekspor Indonesia sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 bahkan masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sebesar 3,89 persen.

Penurunan nilai ekspor nonmigas pada Mei 2026, yang mencapai 22,45 miliar dolar AS, dipicu oleh koreksi tajam pada ekspor logam mulia, perhiasan, dan permata sebesar 59,35 persen. Yusuf menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk normalisasi harga emas di pasar global setelah mengalami reli signifikan pada tahun sebelumnya, sehingga menciptakan basis perbandingan yang tidak lagi menguntungkan.

Di sisi lain, penurunan drastis pada ekspor bijih logam, terak, dan abu sebesar 99,25 persen merupakan dampak langsung dari kebijakan pemerintah. Yusuf menilai bahwa langkah ini merupakan konsekuensi logis dari kebijakan hilirisasi industri yang melarang ekspor bahan mentah, dan bukan merupakan indikasi pelemahan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Sementara itu, sektor besi dan baja mengalami tekanan akibat belum pulihnya permintaan dari pasar China yang masih terhambat oleh kelesuan di sektor properti dan konstruksi. Selain itu, kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen dari Amerika Serikat mulai memberikan dampak pada industri manufaktur tertentu seperti tekstil dan elektronik, meskipun belum menjadi faktor dominan bagi kontraksi ekspor secara keseluruhan.

Menutup analisisnya, Yusuf optimistis bahwa fundamental ekspor Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan kinerja ekspor yang ditopang oleh produk-produk hilirisasi menjadi bukti bahwa transformasi ekonomi melalui pengolahan nilai tambah domestik mulai membuahkan hasil yang signifikan, sekaligus memberikan bantalan bagi ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.

Mengapa Ini Penting

Analisis ini krusial bagi pelaku industri untuk memahami bahwa fluktuasi ekspor saat ini adalah bagian dari normalisasi pasar dan dampak kebijakan hilirisasi, bukan pelemahan struktural. Pemahaman ini membantu investor menilai stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian permintaan global dan kebijakan tarif internasional.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit