Persiapan Emma Raducanu menuju turnamen Wimbledon tahun ini kembali diwarnai oleh tantangan fisik yang mengkhawatirkan. Mantan petenis nomor satu Inggris, Johanna Konta, memberikan pandangannya bahwa atlet muda tersebut kini harus berfokus untuk membangun ketahanan terhadap kesulitan. Sejak meraih gelar juara US Open 2021 secara mengejutkan sebagai petenis kualifikasi, karier Raducanu memang kerap terganggu oleh rangkaian cedera dan masalah kesehatan, serta pergantian pelatih yang terus-menerus.
Setelah sempat bereuni dengan pelatih Andrew Richardson dan tampil menjanjikan di final Queen's Club dua minggu lalu, Raducanu kini kembali dihadapkan pada masalah fisik. Ia terpaksa mengundurkan diri dari Nottingham Open dan terlihat membalut kaki bagian bawahnya saat sesi latihan akibat keluhan pada tulang kering. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik, terutama setelah ia membatalkan konferensi pers sebelum turnamen, jelang laga pembuka melawan petenis Kroasia, Antonia Ruzic.
Johanna Konta, yang pernah mencapai semifinal Wimbledon 2017, berpendapat bahwa cedera yang dialami Raducanu mungkin berkaitan erat dengan stres akibat ekspektasi tinggi. Menurut Konta, membangun ketahanan bukan berarti mengabaikan rasa sakit, melainkan bagaimana seorang atlet mengelola kondisi mental saat berada dalam situasi sulit. Ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, rasa nyeri fisik sering kali dirasakan jauh lebih intens dibandingkan saat performa sedang berada di puncak.
Konta menilai bahwa karier Raducanu berjalan dengan alur yang tidak biasa. Kemenangan luar biasa di US Open di usia belia membuat Raducanu seolah harus mengejar ketertinggalan dalam hal pengalaman, kebugaran pertandingan, dan kematangan mental sebagai juara Grand Slam. Ia menekankan bahwa tekanan untuk selalu memberikan penjelasan atas kegagalan atau performa yang menurun justru dapat memperburuk kondisi psikologis sang atlet.
Lebih lanjut, Konta meyakini bahwa banyak dari cedera yang dialami Raducanu berakar dari stres yang menumpuk. Ia berharap petenis berusia 23 tahun tersebut dapat berdamai dengan tantangan yang ada, alih-alih merasa terbebani untuk terus membuktikan diri atau mencari alasan atas kondisi fisiknya. Proses penerimaan ini dianggap krusial bagi keberlangsungan karier jangka panjang Raducanu di kancah tenis profesional dunia.
Sepanjang tahun ini, Raducanu memang telah berjuang menghadapi berbagai kendala, mulai dari penyakit pasca-virus hingga masalah punggung sebelum tersingkir di babak pertama French Open. Pada tahun 2023, ia bahkan harus melewatkan turnamen besar karena menjalani prosedur medis pada kedua tangan dan pergelangan kakinya. Kini, mata dunia tertuju pada ketangguhan mentalnya untuk menghadapi tekanan di lapangan rumput Wimbledon.