Korea Selatan bersiap melakukan perubahan besar dalam sistem keuangan nasionalnya dengan membuka perdagangan mata uang won selama 24 jam penuh mulai 6 Juli mendatang. Langkah ini menandai berakhirnya era kebijakan mata uang yang tertutup yang telah dipertahankan sejak krisis keuangan Asia tahun 1997. Bagi para pelaku pasar, termasuk veteran perdagangan valas seperti Namkoong Taehun dari Hana Bank, transisi ini dipandang sebagai tantangan operasional yang sangat menuntut.
Selama 18 tahun kariernya, Namkoong telah melalui berbagai gejolak pasar global, namun sistem perdagangan sepanjang waktu ini dianggap sebagai langkah yang jauh lebih kompleks. Jika sebelumnya pasar valas Seoul beroperasi dengan jam kerja terbatas, kini para dealer harus bersiap menghadapi dinamika pasar yang tidak pernah tidur. Kebutuhan untuk memantau pergerakan harga secara global menuntut kesiapan mental dan infrastruktur yang jauh lebih intensif dibandingkan sebelumnya.
Keputusan pemerintah Seoul untuk meliberalisasi pasar valas didorong oleh ambisi ambisius untuk mendapatkan status 'pasar maju' dari MSCI. Dengan aksesibilitas mata uang yang lebih terbuka, Korea Selatan berharap dapat meningkatkan profilnya di mata investor global. Namun, transisi ini membawa risiko tersendiri, terutama terkait volatilitas harga akibat likuiditas yang tipis di luar jam perdagangan utama yang dapat memicu fluktuasi tajam.
Ironisnya, saat ini won sedang berada di titik terendah dalam 17 tahun terakhir terhadap dolar AS. Kondisi ini diperburuk oleh aksi jual investor asing yang ingin melakukan rebalancing portofolio setelah lonjakan indeks KOSPI tahun ini. Selain itu, minat investor domestik Korea yang sangat tinggi terhadap saham-saham Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar won di pasar global.
Untuk memitigasi risiko, pemerintah Korea Selatan telah menyiapkan sejumlah mekanisme pengaman, termasuk izin bagi investor luar negeri untuk memegang dan memperdagangkan mata uang tersebut secara langsung. Sistem penyelesaian won lepas pantai (offshore won settlement) juga diperkenalkan untuk menggantikan ketergantungan pada kontrak derivatif yang selama ini dianggap memperlambat proses bisnis dan menambah biaya operasional bagi investor asing.
Reformasi ini merupakan kelanjutan dari upaya perluasan jam perdagangan hingga pukul 2 dini hari yang telah diuji coba dua tahun lalu. Saat ini, sekitar 20 persen dari volume spot mata uang won telah terjadi selama jam perdagangan luar negeri, terutama berpusat pada pagi hari di London. Dengan implementasi penuh 24 jam, pemerintah berharap Korea Selatan dapat lebih terintegrasi dalam ekosistem keuangan dunia dan mempermudah akses bagi institusi keuangan global.