Internasional

Eropa Mulai Beralih ke Pendingin Ruangan Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Eropa Mulai Beralih ke Pendingin Ruangan Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Ringkasan

  • Gelombang panas ekstrem memaksa masyarakat Eropa untuk mulai mengandalkan pendingin ruangan sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim.

Para ahli sepakat bahwa manusia memiliki zona nyaman termal yang terbatas, yakni berada pada kisaran suhu 17 hingga 24 derajat Celsius. Namun, tantangan besar muncul seiring dengan perubahan iklim global yang mendorong kenaikan suhu musim panas ke tingkat yang mengkhawatirkan, memicu gelombang panas yang memecahkan rekor di berbagai belahan dunia.

Saat ini, sekitar 12 persen dari luas daratan Bumi telah menjadi tidak layak huni akibat kondisi iklim yang ekstrem. Angka ini diprediksi akan meningkat hingga lebih dari 45 persen pada tahun 2100, di mana setidaknya 44 persen populasi dunia akan mengalami tekanan kronis akibat suhu panas yang tidak tertahankan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa antara tahun 2000 hingga 2019, terdapat 489.000 kematian yang berkaitan dengan panas, dengan 45 persen terjadi di Asia dan 36 persen di Eropa. Meskipun jumlah ini masih lebih kecil dibandingkan kematian akibat cuaca dingin, tren kematian akibat panas diproyeksikan akan terus meningkat tajam seiring dengan ancaman ratusan kota yang berisiko menjadi tidak layak huni menjelang akhir abad ini.

Kondisi ini menyoroti tantangan mendesak terkait kebutuhan pendinginan ruang, termasuk sistem refrigerasi. Di Eropa, di mana masyarakat biasanya terbiasa dengan suhu musim panas yang jauh lebih rendah dibandingkan wilayah tropis seperti Hong Kong, kenaikan suhu hingga melampaui 40 derajat Celsius baru-baru ini telah memicu perdebatan mengenai pentingnya penggunaan pendingin ruangan atau air conditioning (AC).

Secara historis, manusia sebenarnya telah lama beradaptasi dengan panas melalui metode tradisional. Bangsa Mesir kuno menggunakan alang-alang basah di jendela, sementara bangsa Romawi membangun saluran air di dinding untuk mendinginkan rumah. Kota-kota seperti Seville di Spanyol selatan bahkan merancang tata kota dengan jalan sempit dan ruang terbuka hijau untuk memitigasi suhu ekstrem, selain penerapan tradisi siesta untuk menghindari aktivitas di puncak panas.

Namun, di era modern, pendingin ruangan telah menjadi instrumen krusial bagi mereka yang mampu menjangkaunya, terutama untuk menjaga kualitas hidup di iklim yang semakin tidak menentu. Pergeseran pola pikir masyarakat Eropa terhadap penggunaan teknologi pendingin kini menjadi cerminan bahwa adaptasi teknologi menjadi langkah yang tidak terelakkan dalam menghadapi krisis iklim global yang kian nyata.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran pola konsumsi energi di Eropa ini memberikan sinyal bagi industri teknologi dan konstruksi di Indonesia untuk mulai mengintegrasikan solusi pendinginan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi perencanaan tata kota di Indonesia agar lebih adaptif terhadap kenaikan suhu global.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit