Kapal induk terbaru milik China, Fujian, diprediksi akan menjadi kapal induk pertama di dunia yang mengoperasikan sistem Anti-Torpedo Torpedo (ATT) secara aktif. Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam kemampuan pertahanan hard-kill angkatan laut China, sebagaimana dilaporkan dalam majalah militer Defence Review edisi Juni.
Fujian, yang resmi ditugaskan pada November lalu, merupakan kapal induk ketiga sekaligus kapal pertama yang dirancang sepenuhnya oleh China untuk Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Salah satu perbedaan mencolok dibandingkan pendahulunya, Liaoning dan Shandong, adalah penggantian peluncur peledak kedalaman 12 tabung dengan peluncur torpedo ringan 324mm enam tabung yang lebih modern.
Menurut analisis Defence Review, sistem ini dirancang sebagai jawaban atas ancaman nyata yang ditimbulkan oleh kapal selam serbu kelas Seawolf dan SSN(X) milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal selam modern dengan torpedo berpemandu kabel dianggap jauh lebih berbahaya bagi kapal perang besar dibandingkan rudal anti-kapal konvensional, sehingga perlindungan terhadap serangan bawah air menjadi prioritas utama.
Dalam laporannya, disebutkan bahwa China telah mengembangkan teknologi ATT sejak uji coba pertama pada 2016. Sistem yang terpasang pada Fujian kini diklaim telah mencapai standar kelas dunia dalam hal akurasi deteksi, keandalan kerusakan, dan integrasi sistem. Hal ini kontras dengan proyek Anti-Torpedo Torpedo Defence System (ATTDS) milik AS pada tahun 2010-an yang sempat mengalami kendala pengembangan.
Secara teknis, torpedo pertahanan China ini kemungkinan besar menggunakan kombinasi pendorong roket kecil untuk kecepatan awal yang tinggi, serta sistem pompa-jet magnet permanen tanah jarang. Teknologi ini memungkinkan torpedo mencapai kecepatan antara 50 hingga 60 knot hanya dalam waktu tiga detik, memberikan respons yang sangat cepat saat mencegat torpedo musuh yang masuk.
Selain kecepatan, sistem ini dirancang untuk memiliki regulasi daya yang presisi dan tingkat kebisingan yang sangat minim. Hal ini krusial agar sistem sonar milik kapal induk Fujian tetap dapat beroperasi dengan optimal tanpa terganggu oleh suara dari sistem pertahanan torpedo tersebut, memastikan perlindungan maksimal bagi aset strategis maritim China di masa depan.