Di tengah eskalasi konflik yang terus berlanjut, Rusia dikabarkan tengah menghadapi krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat serangan beruntun Ukraina terhadap berbagai fasilitas kilang minyak di wilayahnya. Sebagai langkah untuk menutupi defisit pasokan domestik, laporan terbaru menyebutkan bahwa Rusia kini mengimpor bensin dari India, dengan melibatkan perusahaan swasta Nayara Energy.
Sumber industri yang dikutip Reuters mengungkapkan bahwa sekitar 60.000 metrik ton bensin telah dikirimkan dari India menuju Rusia. Pengiriman ini dilakukan melalui dua kapal tanker dengan kapasitas masing-masing antara 30.000 hingga 40.000 ton. Meskipun Nayara Energy belum memberikan konfirmasi resmi mengenai transaksi tersebut, pola perdagangan ini diduga difasilitasi oleh pihak ketiga atau pedagang internasional.
Menanggapi isu tersebut, Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri, menegaskan bahwa perusahaan India tidak melakukan penjualan BBM secara langsung ke Rusia. Namun, ia tidak menampik adanya kemungkinan bahwa Rusia memperoleh bahan bakar asal India melalui perantara perdagangan global yang beroperasi di pasar energi internasional.
Krisis energi di Rusia dipicu oleh serangan sistematis Ukraina terhadap infrastruktur energi vital. Sejak Maret, setidaknya terdapat 50 serangan yang menargetkan kilang, depot, dan terminal minyak Rusia. Dampaknya cukup signifikan, menyebabkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar hingga penerapan sistem penjatahan BBM di berbagai wilayah, termasuk di ibu kota Moskow.
Presiden Vladimir Putin mengakui bahwa serangan tersebut memang mengganggu stabilitas pasokan energi di beberapa daerah, meski ia mengklaim bahwa kekurangan tersebut bersifat sementara dan tidak kritis. Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memanfaatkan situasi ini untuk menyoroti kerentanan ekonomi Rusia yang selama ini dikenal sebagai raksasa produsen energi dunia.
Nayara Energy sendiri merupakan pemain kunci dalam industri hilir India yang mengoperasikan kilang minyak swasta terbesar kedua di negara tersebut, berlokasi di Vadinar, Gujarat. Dengan kapasitas pemrosesan mencapai 400.000 barel per hari, perusahaan ini menjadi subjek perhatian dunia internasional karena perannya dalam dinamika pasokan energi global yang terdampak oleh sanksi dan konflik geopolitik yang berkepanjangan.