Pasar otomotif Australia mencatatkan dinamika signifikan pada Juni 2026, di mana pabrikan kendaraan listrik asal China, BYD, hampir menggulingkan posisi Toyota sebagai pemimpin pasar. Berdasarkan data terbaru, BYD berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 18.881 unit kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV), hanya terpaut tipis 243 unit dari Toyota yang menguasai puncak dengan 19.124 unit.
Capaian luar biasa ini menempatkan BYD sebagai salah satu merek dengan performa bulanan terbaik dalam sejarah industri otomotif Australia. Angka penjualan ini bahkan mendekati rekor historis yang dipegang oleh Holden pada Juni 2003, yang kala itu mencatatkan 17.120 unit. Dominasi BYD di bulan Juni 2026 menjadi sinyal kuat pergeseran preferensi konsumen di Australia menuju kendaraan ramah lingkungan.
Keberhasilan BYD tidak terlepas dari strategi distribusi yang agresif. Pada awal Juni, perusahaan sempat mendatangkan kapal khusus yang mengangkut 5.000 unit kendaraan, termasuk model Denza, guna memenuhi lonjakan permintaan. Sepanjang periode April hingga Juni 2026, BYD telah mengirimkan 34.794 kendaraan, sehingga total pengiriman kumulatif tahun ini mencapai 52.335 unit.
Model SUV listrik menengah, Sealion 7, menjadi kontributor utama penjualan dengan 4.730 unit, diikuti oleh pikap PHEV Shark 6 sebanyak 3.398 unit. Selain itu, model-model baru seperti Sealion 8, Sealion 5, dan hatchback Atto 1 turut memperkuat posisi BYD di berbagai negara bagian seperti Victoria, Queensland, Tasmania, dan Australian Capital Territory (ACT).
Di posisi ketiga, Ford mencatatkan penjualan sebanyak 9.181 unit, tertinggal cukup jauh dari persaingan ketat antara Toyota dan BYD. Sementara itu, Tesla juga mencetak rekor bulanan baru dengan 8.670 unit, yang didominasi oleh Model Y, menjadikannya salah satu pemain kunci yang terus membayangi merek-merek tradisional di pasar Australia.
Secara keseluruhan, daftar 10 merek terlaris di Australia kini diisi oleh kombinasi kuat antara produsen mapan dan pendatang baru yang fokus pada elektrifikasi. Persaingan ini diprediksi akan terus memanas seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di wilayah tersebut, yang memaksa pabrikan otomotif konvensional untuk mempercepat transisi teknologi mereka agar tetap kompetitif.