Pelatih tim nasional sepak bola Mesir, Hossam Hassan, menegaskan bahwa skuadnya tetap fokus penuh pada pertandingan mendatang di Seattle, di tengah sorotan terkait keputusan penyelenggara lokal yang menetapkan laga tersebut sebagai 'Pride Match'. Pernyataan ini muncul setelah adanya keberatan dari asosiasi sepak bola Mesir dan Iran mengenai tema perayaan tersebut, mengingat homoseksualitas merupakan tindakan yang dikriminalisasi di kedua negara tersebut.
Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Kamis, Hassan tidak memberikan jawaban gamblang saat ditanya mengenai perayaan Pride di Seattle yang bertepatan dengan jadwal pertandingan. Ia menegaskan bahwa timnya menyerahkan urusan organisasi kepada FIFA dan asosiasi sepak bola nasional masing-masing. Fokus utama tim, menurutnya, tetap pada aspek teknis permainan di lapangan hijau.
FIFA sendiri telah memberikan tanggapan terkait isu ini dengan menyatakan bahwa segala hal yang terjadi di luar stadion merupakan wewenang kota tuan rumah. Meski demikian, otoritas sepak bola dunia tersebut memastikan bahwa para penggemar tetap diizinkan membawa atribut seperti bendera pelangi ke dalam stadion selama pertandingan berlangsung, sebuah kebijakan yang sempat memicu perdebatan di antara tim yang bertanding.
Di sisi lain, Hassan menanggapi komentar pelatih Iran, Amir Ghalenoei, yang sempat mengeluhkan adanya pembatasan perjalanan bagi timnya. Hassan menyatakan bahwa setiap tim nasional berhak mendapatkan perlakuan setara dalam turnamen ini. Ia percaya bahwa FIFA telah melakukan upaya maksimal untuk menjamin rasa hormat dan sportivitas bagi seluruh kontestan yang berpartisipasi.
Perhatian publik Mesir kini tertuju pada kapten mereka, Mohamed Salah, yang tampil impresif dengan peran baru di posisi tengah. Hassan memuji fleksibilitas Salah, menyebutnya sebagai 'versi baru' yang lebih kreatif dan bebas dalam mengolah bola. Peran sentral ini diharapkan menjadi kunci kemenangan Mesir dalam laga krusial demi mengamankan posisi puncak di Grup G.
Meski Salah menjadi sosok sentral, Hassan menekankan bahwa keberhasilan tim tidak bergantung pada satu atau dua pemain bintang saja. Ia mengingatkan bahwa pertandingan mendatang melawan Selandia Baru atau Belgia merupakan laga dengan taruhan tinggi yang membutuhkan kerja sama tim yang solid. Fokus utama saat ini adalah menerapkan disiplin taktis dan rasa hormat terhadap aturan permainan yang telah ditetapkan FIFA.