Turnamen kualifikasi Wimbledon terpaksa dihentikan sementara di seluruh lapangan pada hari Rabu akibat kendala teknis pada sistem line calling otomatis. Gangguan pasokan listrik menyebabkan teknologi pemantauan garis tersebut tidak berfungsi, sehingga memaksa pihak penyelenggara menunda pertandingan selama kurang lebih satu jam. Insiden ini terjadi saat petenis Inggris, Dan Evans, baru saja menyelesaikan set pertama dalam pertandingannya melawan petenis Australia, Tristan Schoolkate.
Roehampton, lokasi berlangsungnya kualifikasi, saat itu sedang dilanda gelombang panas yang ekstrem. Pihak All England Club mengonfirmasi bahwa hilangnya daya listrik sementara di area venue menjadi penyebab utama sistem elektronik tersebut mengalami kegagalan fungsi. Meskipun demikian, pihak berwenang masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan apakah suhu udara yang sangat tinggi berkontribusi langsung terhadap gangguan teknis pada infrastruktur listrik tersebut.
Sistem line calling otomatis sendiri baru saja diterapkan secara penuh di Wimbledon mulai tahun lalu, menggantikan peran hakim garis tradisional. Langkah ini merupakan perubahan bersejarah bagi turnamen tenis tertua di dunia tersebut. Namun, teknologi ini tampaknya belum sepenuhnya stabil, mengingat pada hari Senin sebelumnya, sistem tersebut juga sempat mengalami kendala teknis ketika audio panggilan "out" tidak terdengar di lapangan.
Di tengah suhu udara yang diprediksi mencapai lebih dari 30 derajat Celsius, otoritas Wimbledon menerapkan aturan panas atau heat rule. Aturan ini memberikan kelonggaran berupa jeda istirahat selama 10 menit di antara set kedua dan ketiga bagi para pemain jika indeks tekanan panas mencapai ambang batas 30,1 derajat Celsius. Pengukuran dilakukan secara berkala untuk menjaga keselamatan atlet di lapangan.
Turnamen kualifikasi Wimbledon memiliki karakteristik unik karena diadakan di luar area utama, tepatnya di bekas lapangan olahraga Bank of England di Roehampton. Lokasi ini terletak tidak jauh dari National Tennis Centre. Meskipun telah ada rencana pengembangan fasilitas di sekitar All England Club untuk memindahkan lokasi kualifikasi, proses tersebut saat ini masih terhambat oleh prosedur hukum yang sedang berjalan.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara ajang olahraga internasional terkait ketergantungan pada sistem otomatis. Keandalan infrastruktur pendukung, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, menjadi tantangan besar dalam digitalisasi olahraga profesional. Pihak manajemen turnamen diharapkan dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh agar gangguan serupa tidak terulang di masa depan, mengingat Wimbledon merupakan salah satu panggung tenis paling prestisius di dunia.