Optimisme yang sempat menyelimuti skuad Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel pasca kemenangan telak 4-2 atas Kroasia di laga pembuka, mendadak meredup. Hasil imbang 0-0 melawan Ghana pada Selasa malam menjadi pengingat keras bahwa perjalanan di turnamen besar tidak selalu berjalan mulus. Meski Inggris tampil impresif di laga pertama, mereka justru menemui jalan buntu saat menghadapi taktik defensif yang disiplin dari Ghana.
Strategi Carlos Queiroz yang menerapkan formasi 4-5-1 dengan pertahanan yang sangat dalam berhasil membuat lini serang Inggris frustrasi sepanjang pertandingan. Ghana bermain sangat terorganisir dan mengandalkan fisik untuk menutup setiap celah di area berbahaya. Hal ini memaksa Inggris untuk bekerja ekstra keras, namun mereka gagal menembus tembok pertahanan yang dibangun rapi oleh lawan sepanjang 90 menit.
Thomas Tuchel mengakui kesulitan timnya dalam membongkar pertahanan yang menumpuk. Menurutnya, ketika lawan berkomitmen penuh pada taktik bertahan total, ruang gerak pemain menjadi sangat terbatas. Tuchel menegaskan bahwa timnya tidak boleh kehilangan fokus hanya karena gagal meraih kemenangan dalam laga yang bagi Ghana terasa seperti sebuah kejayaan karena berhasil menahan imbang tim unggulan.
Harry Kane, yang menjadi pahlawan dengan dua gol di laga pembuka, tampak terisolasi dan mendapatkan pengawalan ketat sepanjang laga. Frustrasi sang kapten mencapai puncaknya di masa tambahan waktu ketika peluang emasnya gagal membuahkan gol setelah sundulan Nico O'Reilly membentur mistar gawang. Minimnya kreativitas di lini tengah membuat distribusi bola ke depan tidak efektif.
Performa ini memicu perdebatan mengenai kedalaman skuad Inggris. Anthony Gordon yang tampil kurang maksimal kemudian digantikan oleh Bukaku Saka, yang sempat memberikan sedikit energi tambahan ke lini serang. Nama Marcus Rashford kini juga mulai diperbincangkan untuk mendapatkan menit bermain lebih banyak sebagai solusi atas kebuntuan Inggris saat menghadapi tim dengan pertahanan rapat.
Meski masih memuncaki Grup L dan berada di jalur yang tepat menuju fase gugur, hasil ini menjadi catatan negatif bagi Inggris. Ini adalah keempat kalinya secara berturut-turut Inggris gagal memenangkan pertandingan kedua di turnamen besar. Pertanyaan mengenai konsistensi dan kemampuan tim untuk mengalahkan oposisi yang terorganisir kembali muncul, menggantikan euforia yang sempat membuncah pasca kemenangan atas Kroasia.