Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa risiko penyebaran global wabah Ebola yang kini berpusat di Republik Demokratik Kongo (DRC) masih berada pada tingkat rendah. Pernyataan ini disampaikan menyusul konfirmasi adanya satu kasus Ebola yang terdeteksi di Prancis pada Rabu (24/6). Pasien tersebut diketahui merupakan seorang dokter yang baru saja kembali dari misi kemanusiaan di DRC.
Kasus di Prancis ini menjadi catatan sejarah tersendiri sebagai temuan pertama Ebola di luar benua Afrika selama wabah yang sedang berlangsung saat ini. Meskipun demikian, pihak otoritas kesehatan global mendesak masyarakat internasional untuk tidak bereaksi berlebihan atau dilanda kepanikan. Tedros menegaskan bahwa protokol isolasi telah berjalan dengan baik, sehingga risiko penularan ke wilayah lain di dunia tetap terjaga dalam kategori rendah.
Pasien yang merupakan relawan dari organisasi Alliance for International Medical Action (ALIMA) ini dilaporkan hanya mengalami gejala ringan berupa sakit kepala saat menaiki penerbangan komersial dari Kinshasa. Kondisi kesehatannya sempat memburuk sedikit selama perjalanan, namun tim medis Prancis telah melakukan isolasi ketat segera setelah pesawat mendarat. Saat ini, pasien berada dalam kondisi stabil dengan viral load yang tercatat sangat rendah.
Insiden ini menjadi pengingat keras mengenai bahaya nyata yang dihadapi oleh para tenaga medis di garda terdepan penanganan wabah. Menurut data WHO, hampir 80 petugas kesehatan telah terinfeksi virus Ebola dalam periode wabah kali ini. Hal tersebut menyoroti urgensi untuk memperkuat standar pencegahan infeksi serta memastikan perlindungan maksimal bagi personel yang bertugas di zona merah.
WHO saat ini terus memberikan dukungan bagi negara-negara dalam memfasilitasi penempatan personel yang aman. Tedros menekankan pentingnya organisasi penyalur relawan untuk memberikan informasi risiko yang transparan serta menyiapkan rencana evakuasi medis yang matang jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Langkah ini krusial untuk menjaga keselamatan relawan sekaligus mencegah penyebaran virus ke luar wilayah terdampak.
Sejak wabah ke-17 di DRC diumumkan pada 15 Mei lalu, tercatat lebih dari 1.000 kasus dengan tingkat kematian mencapai 25 persen. Meskipun WHO menetapkan tingkat risiko 'sangat tinggi' untuk DRC dan 'tinggi' untuk negara tetangga seperti Uganda, untuk wilayah dunia lainnya, statusnya tetap rendah. Selama 50 tahun terakhir, kasus Ebola yang terdeteksi di luar Afrika tercatat kurang dari 30 kasus, menegaskan bahwa penularan lintas benua sangat jarang terjadi.