Internasional

Polisi Keamanan Nasional Hong Kong Tangkap Dua Orang di Toko Buku Independen

Polisi Keamanan Nasional Hong Kong Tangkap Dua Orang di Toko Buku Independen

Ringkasan

  • Aparat keamanan nasional Hong Kong menangkap pemilik toko buku Hunter Bookstore, Leticia Wong, atas dugaan hasutan dan pencucian uang.

Aparat keamanan nasional Hong Kong baru saja melakukan tindakan hukum dengan menangkap pemilik serta satu orang lainnya di sebuah toko buku independen. Operasi ini dilakukan di Hunter Bookstore yang berlokasi di wilayah Sham Shui Po pada hari Rabu, sebagai bagian dari penyelidikan intensif terhadap aktivitas yang dianggap melanggar hukum keamanan nasional.

Salah satu pihak yang ditangkap adalah Leticia Wong Man-huen, mantan anggota dewan distrik sekaligus pemilik toko buku tersebut. Bersama dengan seorang pria lokal lainnya, Wong kini berada dalam tahanan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut atas dugaan keterlibatan dalam tindakan yang mengandung niat menghasut.

Kepolisian Hong Kong menyatakan bahwa tindakan penangkapan ini didasarkan pada kecurigaan adanya upaya penyebaran hasutan yang melanggar hukum di wilayah tersebut. Selain dugaan penghasutan, pihak berwenang juga menuduh Wong melakukan tindak pidana pencucian uang yang melanggar Organised and Serious Crimes Ordinance atau Undang-Undang Kejahatan Terorganisir dan Berat.

Dalam penyelidikan tersebut, pihak kepolisian mengklaim telah menemukan bukti adanya aliran dana mencurigakan yang diterima oleh Wong dari berbagai entitas politik asing. Hal inilah yang mendasari tuduhan pencucian uang yang kini disematkan kepada sang mantan anggota Civic Party yang kini telah dibubarkan tersebut.

Saat melakukan penggeledahan di lokasi kejadian, petugas kepolisian menyita sejumlah barang bukti berupa buku-buku dan dokumen yang dianggap mengandung konten hasutan. Pihak kepolisian menuduh bahwa toko buku tersebut secara aktif menjual dan memamerkan publikasi yang dianggap mampu memicu ketegangan di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, pihak berwenang menuding bahwa kedua tersangka telah mengorganisir berbagai diskusi dan sesi berbagi yang menyasar kalangan anak muda serta pelajar. Kegiatan tersebut diduga bertujuan untuk menanamkan kebencian terhadap pemerintah, sistem peradilan, serta lembaga penegak hukum di Hong Kong, sehingga dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan dan stabilitas wilayah tersebut.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini menyoroti bagaimana aturan keamanan nasional yang ketat dapat berdampak langsung pada ruang gerak kebebasan berekspresi dan literasi di Hong Kong. Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini menjadi cerminan penting mengenai dinamika regulasi hukum yang semakin sensitif terhadap konten digital maupun fisik yang dianggap menentang otoritas negara.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
24 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit