Internasional

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa Timur, Slovakia dan Ceko Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi

Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa Timur, Slovakia dan Ceko Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi

Ringkasan

  • Gelombang panas ekstrem memecahkan rekor suhu tertinggi di Slovakia dan Ceko, berdampak pada 130 juta orang di Eropa.

Gelombang panas yang mematikan terus menyapu wilayah Eropa Tengah dan Timur, menyebabkan lonjakan suhu yang memecahkan rekor sejarah di beberapa negara. Sekitar 130 juta orang terdampak oleh suhu ekstrem yang melampaui 35 derajat Celsius, menciptakan situasi darurat bagi infrastruktur publik dan kesehatan masyarakat di kawasan tersebut.

Slovakia mencatat rekor suhu tertinggi dalam sejarahnya pada Senin lalu, mencapai 41 derajat Celsius di desa Turna nad Bodvou. Fenomena serupa terjadi di Republik Ceko, di mana Institut Hidrometeorologi Ceko melaporkan suhu mencapai 41,9 derajat Celsius di Doksany pada Minggu malam, melampaui rekor sebelumnya sebesar 40,4 derajat Celsius yang tercatat pada tahun 2021. Para ahli meteorologi menyebut lonjakan suhu sebesar 1,5 derajat Celsius ini sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hungaria juga mencatatkan suhu ekstrem mencapai 41,8 derajat Celsius di wilayah pusat negara tersebut, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 41,9 derajat Celsius yang terjadi pada Juli 2007. Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar, telah mengeluarkan peringatan keras bahwa hari-hari terberat dari gelombang panas ini masih akan berlanjut dan mengimbau sektor publik untuk menerapkan sistem kerja jarak jauh guna melindungi tenaga kerja.

Dampak dari gelombang panas ini meluas hingga ke Italia dan Balkan, di mana puluhan kota telah ditempatkan dalam status siaga merah. Laporan mengenai kebakaran hutan juga mulai muncul di Kroasia, Albania, serta Bosnia dan Herzegovina, menambah beban bagi otoritas setempat dalam menangani krisis lingkungan yang sedang berlangsung. Di Ukraina, pemerintah terpaksa menerapkan pemadaman listrik darurat untuk mengurangi beban pada jaringan energi yang tertekan akibat penggunaan pendingin ruangan secara masif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni, menggarisbawahi bahaya laten dari gelombang panas yang sering disebut sebagai 'pembunuh senyap'. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa Eropa adalah benua yang memanas dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, sementara infrastruktur bangunan di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini.

Para ilmuwan dari kelompok World Weather Attribution menyatakan bahwa gelombang panas ini sangat luar biasa mengingat intensitasnya terjadi di bulan Juni. Meskipun suhu di Eropa Barat mulai sedikit menurun, para ahli meteorologi memprediksi gelombang panas susulan akan kembali melanda wilayah Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, dan Swiss mulai awal Juli, menandai musim panas yang sangat menantang bagi seluruh benua Eropa.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini menjadi peringatan bagi Indonesia mengenai pentingnya adaptasi infrastruktur kota dalam menghadapi kenaikan suhu global yang ekstrem. Selain itu, krisis energi yang dipicu oleh gelombang panas menunjukkan betapa rentannya ketahanan energi negara terhadap lonjakan permintaan listrik saat cuaca tidak menentu.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
30 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit