Internasional

Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Mindanao, Dampaknya Terasa hingga Kepulauan Sangihe

Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Mindanao, Dampaknya Terasa hingga Kepulauan Sangihe

Ringkasan

  • Gempa bumi berkekuatan M 5,9 mengguncang Mindanao, Filipina, dan dampaknya dirasakan hingga ke wilayah Kepulauan Sangihe dan Maluku Utara.

Wilayah Mindanao, Filipina, diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 5,9 pada Senin (6/7) petang. Fenomena geologi ini terpantau terjadi pada pukul 15.11 WIB dengan pusat gempa berada di laut, tepatnya sekitar 165 kilometer Barat Laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada kedalaman 29 kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera melakukan analisis mendalam terhadap peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil pemodelan, BMKG memastikan bahwa gempa yang berpusat di perairan tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami bagi wilayah pesisir Indonesia, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada.

Berdasarkan peta tingkat guncangan (shakemap), dampak gempa dirasakan dengan intensitas yang bervariasi di wilayah Indonesia. Pulau Marore di Kepulauan Sangihe tercatat mengalami guncangan dengan skala V MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh hampir seluruh penduduk, menyebabkan barang-barang pecah, perabotan terpelanting, hingga membuat masyarakat terbangun dari istirahatnya.

Sementara itu, wilayah Kendahe dan Nusa Tabukan di Kepulauan Sangihe merasakan guncangan pada skala IV MMI. Intensitas ini ditandai dengan getaran yang dirasakan nyata oleh orang banyak di dalam rumah, jendela dan pintu yang berderik, serta dinding bangunan yang mengeluarkan bunyi akibat tekanan getaran.

Tidak hanya di Sulawesi Utara, guncangan dengan skala III MMI juga dirasakan di beberapa wilayah di Maluku Utara, seperti Ternate, Tidore, Sanana, dan Morotai. Getaran pada skala ini terasa nyata di dalam rumah, menyerupai sensasi saat ada truk besar yang melintas di dekat pemukiman warga. Kota Tahuna dan Melonguane juga melaporkan intensitas guncangan serupa.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa hingga pukul 15.45 WIB, pihaknya telah mencatat adanya satu aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan M 5,3. Pihak BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas seismik di wilayah tersebut guna memastikan keamanan warga di wilayah perbatasan utara Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini menyoroti kerentanan wilayah perbatasan Indonesia terhadap aktivitas tektonik di jalur cincin api Pasifik. Pemahaman mengenai mitigasi bencana di wilayah terluar sangat penting bagi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur tahan gempa dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi ancaman seismik di masa depan.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit