Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi melaporkan terjadinya peristiwa gempa bumi tektonik dangkal yang mengguncang kawasan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dan wilayah Maluku Utara. Peristiwa seismik ini tercatat terjadi akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Laut Maluku yang aktif di bawah permukaan laut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil analisis parameter terbaru, gempa tersebut memiliki kekuatan magnitudo 5,5 (M5,5). Fenomena ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal dengan kedalaman pusat gempa mencapai 40 kilometer di bawah permukaan laut.
Berdasarkan data teknis, episenter gempa bumi tersebut berada pada koordinat 3,21 derajat Lintang Utara dan 127,47 derajat Bujur Timur. Lokasi spesifiknya berada di laut, yakni berjarak sekitar 107 kilometer ke arah Barat Laut Pulau Doi, Halmahera Utara. BMKG memastikan bahwa gempa dengan magnitudo tersebut tidak memicu ancaman gelombang tsunami.
Laporan dari masyarakat di lapangan menunjukkan bahwa guncangan dirasakan cukup nyata di beberapa wilayah. Di daerah Naha, intensitas guncangan mencapai skala II-III MMI, di mana getaran dirasakan di dalam rumah seolah-olah ada truk besar yang melintas. Sementara itu, warga di kawasan Tobelo merasakan getaran dengan skala II MMI yang ditandai dengan bergoyangnya benda-benda ringan yang tergantung.
Analisis mekanisme sumber yang dilakukan oleh tim ahli BMKG menunjukkan bahwa gempa di Laut Maluku ini memiliki karakteristik pergerakan geser naik atau yang dikenal sebagai oblique thrust fault. Hingga pukul 14.30 WIB atau 16.30 WIT, sistem monitoring seismik belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan di lokasi tersebut.
Menanggapi situasi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta untuk tetap waspada dan menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan struktural akibat guncangan gempa demi keselamatan bersama.