Artificial Intelligence

Perusahaan Chip AI Groq Raih Pendanaan US$650 Juta Usai Kesepakatan Lisensi dengan Nvidia

Ringkasan

  • Groq mengumumkan pendanaan US$650 juta untuk memperkuat bisnis neocloud setelah kesepakatan lisensi teknologi dengan Nvidia.

Produsen chip kecerdasan buatan (AI), Groq, resmi mengumumkan perolehan pendanaan baru senilai US$650 juta. Langkah strategis ini diambil perusahaan sebagai upaya untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran dan memperkuat operasionalnya setelah melewati periode transisi yang menantang pasca kesepakatan lisensi teknologi dengan raksasa chip, Nvidia.

Sebelumnya, pada bulan Desember lalu, Nvidia menandatangani perjanjian lisensi non-eksklusif untuk teknologi milik Groq. Kesepakatan yang sering disebut sebagai 'not-acqui-hire' ini melibatkan pengalihan kekayaan intelektual (IP) serta perekrutan sejumlah talenta kunci Groq, termasuk pendiri sekaligus CEO Jonathan Ross dan presiden Sunny Madra. Meskipun Groq tidak mengungkapkan valuasi terbarunya, perusahaan ini sempat tercatat memiliki valuasi sebesar US$6,9 miliar pada putaran pendanaan September lalu.

Pasca ditinggal oleh para petinggi utamanya, Groq kini dipimpin oleh Doug Wightman, yang sebelumnya menjabat sebagai rekan pendiri. Di bawah kepemimpinan baru, perusahaan melakukan pergeseran fokus bisnis ke sektor 'neocloud'. Bisnis ini sebelumnya dikelola oleh Madra setelah Groq mengakuisisi perusahaan analitik data AI, Definitive Intelligence, pada tahun 2024.

Saat ini, layanan neocloud Groq telah berkembang pesat dengan mengoperasikan 13 pusat data yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Pasifik. Perusahaan mengklaim telah melayani lebih dari lima juta pengembang serta ribuan perusahaan berbasis AI, dengan kapasitas pemrosesan mencapai triliunan token setiap minggunya.

Untuk memperkuat struktur organisasi, Groq juga telah merekrut sejumlah eksekutif baru berpengalaman. Alan Rice, mantan petinggi di xAI dan Meta, bergabung sebagai Chief Operating Officer (COO). Selain itu, Groq menunjuk Sinclair Schuller sebagai Chief Technology Officer (CTO) dan Rakesh Malhotra sebagai Chief Product Officer (CPO) untuk memimpin pengembangan produk ke depan.

Keberhasilan Groq ke depan akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk tetap kompetitif di pasar *inference cloud* yang kian padat. Meskipun teknologi inti mereka kini telah dibagikan dengan Nvidia, Groq optimistis bahwa permintaan tinggi terhadap teknologi inferensi akan memberikan ruang bagi mereka untuk terus bertumbuh dan berinovasi di tengah persaingan industri teknologi global yang sangat dinamis.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti dinamika konsolidasi talenta dan teknologi di industri AI global yang sangat kompetitif. Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, langkah Groq menunjukkan pentingnya diversifikasi model bisnis dan resiliensi perusahaan startup ketika menghadapi akuisisi parsial oleh raksasa teknologi.

Sumber Asli
Techcrunch
Tanggal
22 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit