Berita

Harga Emas Melorot Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Ringkasan

  • Harga emas global turun tipis pada Rabu (29/7/2025) karena dolar AS menguat menjelang pengumuman kebijakan suku bunga dari The Fed yang diharapkan tetap stabil.

Harga emas global terkoreksi tipis pada perdagangan Rabu (29/7/2025) karena dolar Amerika Serikat (AS) tetap kokoh di level tertinggi sebulan terakhir. Investor kini menahan diri dan menunggu hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) untuk petunjuk lebih lanjut mengenai laju inflasi dan arah suku bunga.

Data menunjukkan harga spot emas merosot 0,1% ke posisi 4.021,87 dolar AS per ounce pada pukul 00.52 GMT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun lebih dalam, yakni 0,4% ke level 4.021,70 dolar AS.

Penurunan ini tidak terlepas dari penguatan dolar AS. Greenback bertengger di dekat level tertinggi satu bulannya, membuat emas yang dihargai dalam mata uang Paman Sam menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini secara langsung menekan permintaan dan daya tarik logam mulia sebagai aset safe haven dalam jangka pendek.

The Fed dijadwalkan mengumumkan hasil rapat dua hari pada hari yang sama. Analis pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil. Data dari alat FedWatch menunjukkan ekspektasi pasar: 70% kemungkinan status quo, dan 30% peluang The Fed menaikkan suku bunga minimal 25 basis poin.

Proyeksi lebih jauh juga menarik perhatian. Pasar saat ini memberikan probabilitas 76% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya pada September mendatang. Sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat ini menjadi faktor penekan utama bagi harga emas, karena kenaikan suku bunga membuat aset non-bunga seperti emas menjadi kurang menarik.

Selain The Fed, Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) juga diharapkan mempertahankan suku bunga masing-masing pada pertemuan Kamis dan Jumat. Kedua bank sentral tersebut juga tampak berhati-hati dalam merespons tekanan inflasi yang terus meningkat, menciptakan suasana kehati-hatian global.

Situasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi latar belakang. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengungkapkan Iran telah meluncurkan beberapa rudal balistik dalam serangan kejutan ke posisi pasukan AS di wilayah tersebut. Serangan itu berhasil digagalkan. Di sisi lain, Oman dikabarkan telah mengajukan rencana yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk pengenaan biaya sukarela bagi kapal yang melintas.

Namun, seorang pejabat AS kembali menolak gagasan pungutan atau biaya untuk kapal yang melintasi selat strategis tersebut. Ketegangan di kawasan pengiriman minyak mentah utama dunia ini biasanya mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset aman. Namun, dalam situasi saat ini, kekuatan dolar dan fokus pasar pada kebijakan moneter AS lebih dominan.

Di tengah dinamika itu, Commerzbank memangkas proyeksi harga akhir tahun untuk emas menjadi 4.500 dolar AS per troy ounce. Bank asal Jerman itu juga memproyeksikan harga perak akan mencapai 67 dolar AS per troy ounce pada akhir tahun. Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya beragam: perak naik 0,1% ke 57,20 dolar AS, platinum meningkat 0,1% ke 1.605,96 dolar AS, dan palladium justru turun 0,1% ke 1.268,35 dolar AS.

Koreksi harga emas ini secara langsung dirasakan investor di Indonesia. Pasalnya, harga emas antam di dalam negeri umumnya bergerak mengikuti tren harga internasional dikonversi dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketika dolar menguat dan harga emas global turun, harga jual dan beli emas perhiasan maupun logam mulia di toko-toko emas lokal berpotensi mengalami penurunan serupa.

Bagi masyarakat Indonesia yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang atau tabungan, pergerakan ini merupakan volatilitas normal. Namun, bagi pedagang emas kecil dan pengrajin perhiasan, fluktuasi harga yang cepat bisa menimbulkan ketidakpastian dalam menentukan strategi penjualan dan stok. Mereka perlu cermat membaca sinyal pasar global.

Ke depannya, seluruh mata pasar tertuju pada pidato Ketua The Fed setelah pengumuman kebijakan. Setiap petunjuk mengenai laju pengetatan moneter di masa depan akan langsung memengaruhi sentimen terhadap emas. Jika The Fed terdengar lebih "hawkish" atau agresif dalam memangkas inflasi, tekanan pada harga emas berpotensi berlanjut.

Sebaliknya, jika ada sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan dengan sangat hati-hati atau mungkin dihentikan, harga emas bisa mendapatkan kembali daya tariknya. Investor Indonesia, baik institusional maupun ritel, perlu memantau perkembangan ini karena implikasinya luas, mulai dari portofolio investasi hingga kebijakan moneter Bank Indonesia yang bisa merespon gerakan The Fed.

Mengapa Ini Penting

Pergerakan harga emas ini memiliki dampak nyata bagi masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan budaya investasi emas yang kuat, fluktuasi harga internasional langsung mempengaruhi harga emas di toko-tokoa lokal, mulai dari perhiasan hingga logam mulia batangan. Selain itu, ketidakpastian kebijakan moneter global juga menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia dalam mengatur suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi domestik, yang pada gilirannya mempengaruhi biaya pinjaman dan daya beli masyarakat.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
29 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit