Internasional

Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Pra-Perang Akibat Lonjakan Pasokan Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Pra-Perang Akibat Lonjakan Pasokan Timur Tengah

Ringkasan

  • Harga minyak dunia merosot ke level sebelum perang seiring normalisasi arus pasokan melalui Selat Hormuz dan ekspektasi kenaikan produksi Iran.

Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan signifikan pada Kamis (25/6), menyentuh level terendah sejak 27 Februari. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi pasar akan membaiknya pasokan dari kawasan Timur Tengah, yang berhasil mengimbangi kekhawatiran mengenai permintaan global yang sempat menekan harga sebelumnya.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun sebesar US$1,28 atau 1,74 persen menjadi US$72,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami koreksi sebesar US$1,15 atau 1,63 persen, diperdagangkan pada harga US$69,19 per barel. Kedua tolok ukur ini berada pada posisi terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa arus lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz kini telah mendekati kondisi normal sebelum perang Iran dimulai. Setidaknya 20 juta barel minyak telah berhasil melewati selat tersebut dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Namun, ia mencatat bahwa pemulihan penuh akan memakan waktu beberapa minggu karena proses pembersihan ranjau laut masih terus dilakukan demi menjamin keselamatan pelayaran.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menjelaskan bahwa sebagian besar peningkatan arus minyak berasal dari kapal-kapal yang keluar dari Teluk. Ia menekankan bahwa untuk mengembalikan normalitas arus masuk, diperlukan kepastian keamanan yang lebih kuat agar premi asuransi pelayaran kembali stabil. Selain itu, rencana Iran untuk meningkatkan penjualan minyak pasca pelonggaran sanksi AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga minyak fisik di pasar global.

Di sisi lain, perbankan investasi Goldman Sachs memprediksi bahwa lonjakan produksi Iran tidak akan terlalu signifikan dalam jangka pendek, meskipun sanksi ekonomi dilonggarkan. Tiongkok diprediksi tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Iran, mengingat sanksi Uni Eropa dan Inggris terhadap kapal serta minyak Iran masih tetap berlaku hingga saat ini.

Sementara itu, dinamika internal OPEC menjadi sorotan baru setelah pejabat senior Kementerian Perminyakan Irak menyatakan kemungkinan untuk mempertimbangkan semua opsi, termasuk keluar dari organisasi tersebut, jika kuota produksi mereka tidak ditingkatkan secara signifikan. Ancaman ini menambah ketidakpastian dalam pasar minyak dunia di tengah upaya pemulihan pasca-perang di kawasan Timur Tengah.

Mengapa Ini Penting

Penurunan harga minyak dunia ini memberikan dampak langsung bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, yang berpotensi mengurangi tekanan pada neraca perdagangan dan subsidi energi nasional. Selain itu, stabilitas pasokan di Selat Hormuz sangat krusial bagi biaya logistik energi global yang memengaruhi inflasi di dalam negeri.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit