Internasional

Hari ke-119 Perang Iran: Israel Gempur Lebanon di Tengah Upaya Inspeksi IAEA

Hari ke-119 Perang Iran: Israel Gempur Lebanon di Tengah Upaya Inspeksi IAEA

Ringkasan

  • Israel terus menggempur Lebanon di hari ke-119 perang, sementara IAEA bersiap kembali ke Iran di tengah progres perundingan damai internasional.

Memasuki hari ke-119 konflik, situasi di Timur Tengah masih diwarnai ketegangan tinggi. Israel dilaporkan terus melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan pada Jumat, meskipun terdapat progres dalam perundingan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa militer Israel tidak akan menarik diri dari wilayah pendudukan di Lebanon, yang saat ini mencakup sekitar seperlima dari total luas negara tersebut.

Di sisi lain, terdapat perkembangan signifikan terkait pengawasan nuklir Iran. Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa para inspektur IAEA akan segera kembali ke Iran. Langkah ini merupakan bagian dari Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian perdamaian sementara antara AS dan Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Grossi menekankan pentingnya akses penuh bagi inspektur untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian yang telah disepakati, meskipun sebelumnya Iran sempat membatasi akses ke situs-situs kunci.

Ketidakpastian keamanan maritim kembali muncul setelah Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB menghentikan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz pada Kamis. Keputusan ini diambil menyusul laporan serangan proyektil terhadap sebuah kapal kargo di dekat perairan Oman. Situasi ini memicu kekhawatiran global mengenai stabilitas jalur perdagangan minyak utama dunia dan efektivitas kesepakatan damai yang sedang diupayakan oleh pihak-pihak terkait.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terkait pemanfaatan aset Iran yang dibekukan. Trump mengklaim bahwa dana tersebut akan dialokasikan untuk pembelian komoditas pertanian AS, seperti gandum, kedelai, dan jagung. Namun, pihak Teheran hingga saat ini belum memberikan konfirmasi resmi mengenai detail penggunaan aset tersebut dalam kerangka kesepakatan ekonomi pasca-perang.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini terus bertambah. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel di kota Mayfadoun, distrik Nabatieh, menewaskan dua orang dan melukai satu lainnya. Selain itu, wilayah Nabatieh al-Fawqa juga menjadi sasaran serangan udara. Di tengah eskalasi militer yang masih berlangsung, delegasi dari Israel dan Lebanon dijadwalkan akan melanjutkan pembicaraan diplomatik untuk mencari jalan keluar dari krisis ini.

Dari sektor ekonomi global, terdapat tanda-tanda pemulihan pasokan energi. India secara resmi mencabut pembatasan pasokan gas minyak cair (LPG) komersial yang sempat diberlakukan selama masa perang akibat terganggunya jalur Selat Hormuz. Selain itu, raksasa energi Saudi Aramco juga telah mengonfirmasi dimulainya kembali aktivitas pemuatan minyak, menandakan adanya harapan akan normalisasi rantai pasok energi dunia di tengah upaya perdamaian yang masih rapuh.

Mengapa Ini Penting

Ketegangan di jalur Selat Hormuz secara langsung memengaruhi harga komoditas energi global dan biaya logistik bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Stabilitas di kawasan Timur Tengah sangat krusial bagi ketahanan energi nasional dan kelancaran rantai pasok global yang berdampak pada inflasi domestik.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit