Hanya dalam kurun waktu 100 hari, lanskap geopolitik dunia telah mengalami perubahan yang drastis dan tak terduga. Konflik militer yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan sebuah 'perang pilihan' yang secara fundamental telah mengubah keseimbangan kekuatan ekonomi, militer, dan politik global. Dampak dari konflik ini tidak menguntungkan posisi Amerika Serikat di panggung internasional, melainkan justru memicu pergeseran kekuatan yang signifikan.
Kombinasi antara dampak langsung dari konflik militer yang tidak perlu ini dengan tantangan global lainnya, seperti perubahan iklim, utang publik yang membengkak, serta upaya de-risking perdagangan global, telah menciptakan guncangan besar. Kebijakan unilateral Amerika Serikat dalam membongkar kesepakatan perdagangan internasional semakin memperburuk ketidakstabilan ekonomi global. Dunia kini menghadapi fase transisi yang tidak menentu akibat kebijakan luar negeri yang dianggap tidak terukur.
Ian Bremmer, pendiri Eurasia Group, menyoroti bahwa perang yang diprakarsai oleh pemerintahan Trump di Iran yang awalnya bertujuan untuk memproyeksikan kekuatan Amerika, justru menghasilkan efek sebaliknya. Reliabilitas Amerika sebagai mitra global kini tidak lagi dapat diasumsikan. Mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat yang sebelumnya dianggap sebagai opsi, kini telah bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi banyak negara di dunia.
Kerusakan reputasi yang dialami Amerika Serikat tercatat sangat berat. Lembaga survei internasional mencatat penurunan tajam dalam posisi Amerika di mata dunia. Bahkan di dalam negeri sendiri, data dari Brookings Institution menunjukkan bahwa 56 persen warga Amerika meyakini bahwa perang tersebut memberikan dampak negatif terhadap kepentingan nasional mereka, termasuk sepertiga dari konstituen Partai Republik.
Ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan Amerika Serikat juga terlihat jelas melalui survei Pew Research. Mayoritas responden di Meksiko, Kanada, hingga negara-negara Eropa seperti Swedia, Jerman, dan Turki menyatakan keraguan besar terhadap kemampuan Presiden Donald Trump dalam menangani urusan global. Data dari European Council bahkan menunjukkan bahwa hanya 11 persen warga Eropa yang kini memandang Amerika Serikat sebagai sekutu yang dapat diandalkan.
Di sisi lain, posisi Tiongkok justru menguat secara signifikan di panggung dunia tanpa harus terlibat langsung dalam konflik tersebut. Survei Ipsos menunjukkan bahwa saat ini lebih banyak orang percaya Tiongkok akan memberikan dampak positif bagi urusan global dalam dekade mendatang dibandingkan Amerika Serikat. Tren ini diperkuat oleh data European Council yang mencatat bahwa sekitar setengah responden di Eropa dan Amerika kini melihat Tiongkok sebagai mitra yang diperlukan dalam tatanan dunia baru.