Internasional

Houthi Ancam Kepung Arab Saudi, Rute Energi Global Terancam

Ringkasan

  • Mohammed al-Bukhaiti, pejabat senior Houthi, mengancam mengepung Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Bandara Sanaa pada Senin (13/7/2026) yang mereka tuduhkan ke Riyadh.

Pejabat politik Houthi Mohammed al-Bukhaiti menyatakan kelompoknya memiliki hak untuk menyerang bandara Arab Saudi dan menerapkan pengepungan sebagai respons atas serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa. Pernyataan tersebut disampaikan langsung dalam wawancara dengan stasiun Al Jazeera pada Selasa (14/7/2026).

Serangan terhadap landasan pacu Sanaa terjadi saat pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi dari Tehran sedang mendekati bandara. Delegasi tersebut baru saja menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas pada 28 Februari akibat perang AS-Israel. Al-Bukhaiti termasuk di antara penumpang yang dialihkan mendarat di Hodeidah, kota pesisir Laut Merah yang juga dikendalikan kelompok pro-Iran itu.

Konflik di Yemen sebenarnya telah berlangsung sejak Houthi mengambil alih Sanaa pada 2014. Gencatan senjata sementara yang disepakati empat tahun lalu memberi jeda relatif tenang bagi warga. Namun bentrokan di Hodeidah antara pasukan Houthi dan pemerintah yang diakui internasional pada awal Juli lalu memperkeruh suasana.

Juru bicara Houthi Yahya Saree menegaskan bahwa serangan Senin lalu mengakhiri fase de-eskalasi perang. Pemerintah Yemen secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan bandara tersebut, dengan alasan tindakan itu mencegah pesawat Iran mendarat di ibu kota yang dikuasai pemberontak.

Penerbangan Tehran–Sanaa pada 3 Juli menjadi pemicu ketegangan terbaru. Itu adalah penerbangan umum pertama dari Iran ke Sanaa dalam lebih dari satu dekade. Di Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Yemen Abdullah al-Saadi menuduh pesawat tersebut membawa personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta peralatan militer dan dwifungsi. Pemerintahnya sempat menawarkan menerbangkan delegasi Houthi menggunakan maskapai nasional.

Eskalasi di Yemen membawa dampak langsung bagi Indonesia, terutama melalui rantai pasok teknologi. Selat Bab al-Mandeb di selatan Laut Merah merupakan jalur vital pengiriman komponen elektronik, semikonduktor, dan perangkat keras dari Eropa maupun Timur Tengah ke Asia. Indonesia mengimpor banyak barang tersebut, sehingga gangguan navigasi berpotensi menaikkan biaya logistik dan harga gadget dalam negeri.

Harga energi global juga rentan terkerek jika Houthi merealisasikan ancaman penutupan selat tersebut. Pengapalan minyak Timur Tengah ke Asia termasuk Indonesia akan terhambat, yang dapat membebani neraca perdagangan dan memperbesar subsidi BBM. Hal ini pada gilirannya menekan daya saing startup serta perusahaan digital lokal yang bergantung pada listrik dan layanan cloud stabil.

Berbeda dengan Yemen, Indonesia tidak terlibat militer dalam konflik tersebut. Namun posisi strategis Selat Malaka dan ketergantungan pada perdagangan global membuat stabilitas Timur Tengah penting bagi pengusaha teknologi domestik. Krisis serupa pernah memicu kelangkaan dan kenaikan harga komponen laptop serta server tahun lalu.

Al-Bukhaiti menegaskan bahwa semua opsi tersedia bagi Houthi terkait Bab al-Mandeb. “Kartu Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang dimiliki Yemen untuk digunakan terhadap negara yang menyerang kami,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa negara yang tidak terlibat permusuhan tidak akan menerima kerugian dari langkah tersebut.

Sebagai respons awal atas serangan Sanaa, Houthi telah meluncurkan salvo rudal balistik ke Bandara Internasional Abha di selatan Saudi. Koalisi pimpinan Saudi melaporkan intersepsi sukses terhadap seluruh rudal. Kelompok pemberontak juga berjanji melanjutkan serangan hingga “pengepungan” terhadap bandara Sanaa diakhiri dan penerbangan Tehran–Sanaa tetap beroperasi.

Jika ketegangan tidak mereda, perang menyeluruh di Yemen dapat terulang dan memperparah krisis kemanusiaan. Ditambah ancaman serupa di Selat Hormuz akibat perang AS–Iran, ekonomi global yang baru pulih dari gejolak Gaza berisiko kembali terpuruk. Sebelumnya, Houthi pernah menyerang kapal terkait Israel atau AS selama perang Gaza, menewaskan sembilan pelaut dan menenggelamkan empat kapal, serangan yang berhenti pasca-gencatan senjata Oktober 2025.

Mengapa Ini Penting

Masyarakat Indonesia yang mengonsumsi produk elektronik impor akan menghadapi kenaikan harga jika rute Laut Merah tidak stabil, karena biaya logistik memengaruhi harga akhir gadget dan komponen server. Ketergantungan Indonesia pada energi fosil membuat gejolak Timur Tengah langsung berdampak pada inflasi domestik, sehingga kebijakan subsidi BBM perlu antisipasi dini. Startup logistik lokal mungkin harus mencari rute alternatif seperti memutar melalui Afrika, yang menekan margin keuntungan dan memperlambat pengiriman barang teknologi.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit