Huawei Digital Power memperkenalkan LUTERRA, platform Smart String Grid-Forming Energy Storage System (ESS) generasi baru, pada pameran Intersolar Europe di Munich, Jerman, bulan lalu. Peluncuran ini dipimpin langsung oleh President Smart ESS Business Huawei Digital Power, Steve Zheng, sebagai jawaban atas kebutuhan sistem kelistrikan yang makin bergantung pada energi terbarukan.
LUTERRA dirancang agar pemasangan lebih mudah, efisiensi berada di level teratas industri, serta mendukung fungsi grid-forming di skala pembangkit. Teknologi penyimpanan energi baterai ini menargetkan peningkatan pendapatan pelanggan lewat optimalisasi throughput dan integrasi yang lebih baik dengan pembangkit surya.
Kebutuhan akan grid-forming muncul karena sistem kelistrikan tradisional membentuk frekuensi dan tegangan dari putaran turbin pembangkit termal. Ketika porsi pembangkit fosil digantikan energi variabel seperti surya dan angin, stabilitas jaringan terancam. Inverter dengan kemampuan grid-forming menyediakan inersia, rasio hubungan singkat, hingga fitur black start yang dulu hanya dimiliki mesin berbahan bakar fosil.
Huawei telah membuktikan teknologi ini lewat mikrogrid 100 persen energi terbarukan terbesar di dunia di kawasan wisata The Red Sea, Arab Saudi. Proyek tersebut beroperasi stabil lebih dari dua tahun dengan PLTS 400 MW dan baterai 1,3 GWh, menunjukkan koordinasi grid-forming bisa berjalan di skala gigawatt-jam.
Negara-negara seperti Inggris, Australia, dan Tiongkok mulai mengembangkan sumber daya berbasis grid-forming. Di Eropa, empat operator sistem transmisi Jerman membuka pasar layanan inersia jangka panjang untuk aset baterai GFM, sementara ENTSO-E merumuskan pedoman teknisnya untuk 36 negara.
Bagi Indonesia, tren ini relevan mengingat target bauran energi terbarukan dan rencana pembangkit surya rooftop massal. Jaringan di dalam negeri masih bertumpu pada pembangkit termal, namun penetrasi PLTS akan memicu isu stabilitas yang sama. Teknologi semacam LUTERRA berpotensi dipakai pengembang IPP lokal untuk memenuhi syarat koneksi ke grid PLN.
Produk baterai dalam negeri umumnya baru menyentuh level inverter pasif atau grid-following. Belum ada solusi lokal yang mengklaim kontrol grid-forming di level pembangkit dengan akurasi state of charge (SOC) 2,5 persen di ujung operasional. Kehadiran pemain global menekan biaya logistik dan lahan lewat desain terintegrasi.
Huawei memangkas waktu pengiriman minimal 30 persen dan biaya balance of plant (BOP) lebih dari 20 persen pada proyek baterai 1 GWh. Kebutuhan lahan juga turun satu meter persegi per megawatt-jam dibanding solusi konvensional berkat arsitektur Through-Busbar yang dipatenkan.
"Huawei mengendalikan seluruh aspek solusi secara menyeluruh sehingga mampu mencapai efisiensi 93,1 persen pada sisi tegangan rendah PCS dengan suhu 25 derajat Celsius," ujar Zheng. Ia menambahkan tingkat akurasi SOC mencapai 2,5 persen di kedua ujung rentang dan 3 persen pada area plateau.
Perusahaan itu mendefinisikan enam fitur utama grid-forming: inersia, short-circuit level, regulasi frekuensi primer, peredaman osilasi daya, black start, serta switching on/off-grid mode virtual synchronous generator. Dalam instalasi 100 MW, ribuan elektronika daya harus beroperasi selaras agar jaringan tetap stabil.
Ke depan, standar grid-forming akan menjadi pintu masuk utama baterai skala besar ke jaringan transmisi. Huawei memproyeksikan teknologi ini bergeser dari level alat ke sistem array hingga pembangkit penuh. Pengembang di Asia Tenggara kemungkinan mengadopsi arsitektur string dengan optimizer per paket baterai untuk memperpanjang siklus hidup sel.
Langkah selanjutnya bagi vendor adalah menurunkan harga komponen silikon karbida (SiC) agar tegangan AC 1000V dan pendingin cair terdistribusi masuk ke proyek menengah. Jika tren efisiensi throughput 10 persen dipertahankan, pengembalian investasi pembangkit surya plus baterai akan membaik dalam lima tahun ke depan.