Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat pada perdagangan Jumat (26/6), di mana indeks KOSPI tercatat merosot lebih dari 8 persen. Penurunan tajam ini memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit guna meredam kepanikan pasar. Aksi jual masif ini dipicu oleh sentimen negatif yang merambat dari Wall Street, menyusul koreksi pada sektor teknologi global yang selama ini menjadi motor penggerak utama pasar saham dunia.
Indeks KOSPI ditutup melemah 8,2 persen ke level 8.199,81 setelah sempat mengalami fluktuasi liar sepanjang pekan. Bursa di Asia lainnya, termasuk Tokyo, Hong Kong, Shanghai, Singapura, dan Taipei, juga mencatatkan kerugian signifikan. Investor tampak mulai bereaksi terhadap valuasi perusahaan teknologi yang dinilai sudah terlalu tinggi di tengah euforia kecerdasan buatan (AI) yang mulai memudar belakangan ini.
Sentimen negatif di pasar global diperburuk oleh keputusan Apple untuk menaikkan harga produk laptop dan tablet mereka akibat lonjakan biaya produksi. Langkah tersebut memicu aksi jual pada saham-saham teknologi raksasa di bursa Nasdaq dan S&P 500. Selain itu, tekanan regulasi dari Uni Eropa terhadap raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft terkait aturan persaingan digital di sektor komputasi awan semakin menambah beban sentimen pasar.
Para analis pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi triliunan dolar di sektor AI. Matt Maley dari Miller Tabak mencatat adanya keretakan dalam sektor teknologi, di mana jika perusahaan-perusahaan skala besar atau hyperscalers terus mengalami penurunan, hal ini akan mempersulit pemulihan pasar secara keseluruhan. Di Korea Selatan, raksasa chip seperti Samsung dan SK hynix terpantau turun sekitar 5 persen pada awal perdagangan.
Di Tokyo, saham SoftBank terjun bebas lebih dari 12 persen setelah muncul laporan bahwa OpenAI menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) hingga tahun 2027. Penurunan ini terjadi di tengah spekulasi investor yang masih meraba-raba mengenai kapan hasil nyata dari investasi masif di sektor kecerdasan buatan akan memberikan dampak positif pada profitabilitas perusahaan secara konsisten.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan setelah sempat menguat sesaat akibat insiden serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Meskipun data inflasi AS menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah dari ekspektasi—yang biasanya memicu harapan pelonggaran kebijakan suku bunga The Fed—kondisi pasar global tetap menunjukkan volatilitas tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran mengenai valuasi sektor teknologi yang melampaui batas kewajaran.