Para menteri dan perwakilan dari negara-negara anggota Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) secara resmi menyambut baik kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah diplomatik ini mencakup inisiatif krusial untuk membuka kembali Selat Hormuz guna memulihkan navigasi laut yang bebas dan aman bagi kapal-kapal komersial internasional.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Jumat (26/6), blok perdagangan bebas tersebut menekankan urgensi menjaga jalur laut tetap terbuka dan aman. Mereka menegaskan pentingnya memastikan kebebasan navigasi, penerbangan, serta menjamin jalur transit yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan melalui Selat Hormuz, yang merupakan salah satu koridor maritim paling strategis di dunia.
Para menteri juga menyerukan agar gangguan terhadap arus perdagangan energi diminimalkan sesuai dengan hukum internasional, sebagaimana tertuang dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Selat Hormuz memegang peranan vital karena menjadi jalur bagi sekitar seperlima dari total ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) lintas laut secara global.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang ditandatangani awal bulan ini setelah konflik berkepanjangan, bertujuan untuk mengakhiri perang secara formal. Selain membuka kembali jalur pelayaran, perjanjian ini membuka ruang bagi negosiasi lebih lanjut terkait program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi ekonomi yang selama ini membatasi keterlibatan Iran dalam pasar global.
Menanggapi situasi ini, para menteri CPTPP berkomitmen untuk mempromosikan pasar yang bebas dan terbuka serta perdagangan berbasis aturan. Mereka menekankan bahwa stabilitas pasokan bahan bakar, produk energi, dan barang-barang krusial lainnya—seperti diesel, gas alam, petrokimia, pupuk, hingga plastik—sangat esensial bagi keamanan dan kemakmuran ekonomi negara-negara anggota.
Sebagai langkah strategis, blok CPTPP berencana mempercepat upaya pembaruan ketentuan internal untuk memperkuat ketahanan rantai pasok global. Mereka juga akan menjajaki kerja sama praktis dan pertukaran informasi yang tepat waktu untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memitigasi risiko gangguan pasokan di masa depan, terutama di tengah krisis global yang masih membayangi.
Selain membahas geopolitik, dalam pertemuan terpisah, para menteri menegaskan komitmen untuk meresmikan aksesi Kosta Rika ke dalam keanggotaan CPTPP sesegera mungkin. Blok ini juga menunjukkan progres positif terkait proses aksesi Uruguay serta mulai membuka diskusi persiapan dengan Uni Emirat Arab, Filipina, dan Indonesia sebagai kandidat anggota potensial di masa mendatang.