Berita

Inggris Pulihkan Hubungan dengan AS Lewat Kerja Sama Buka Selat Hormuz

Ringkasan

  • Inggris bergerak memperbaiki hubungan dengan AS yang renggang di era PM Starmer.
  • Lewat kerja sama militer membuka Selat Hormuz, Menteri Pertahanan Streeting menjajaki koalisi internasional bersama Menteri Perang AS Hegseth.

Menteri Pertahanan Inggris John Streeting menginisiasi langkah pemulihan hubungan dengan Amerika Serikat yang sempat renggang di bawah Perdana Menteri Keir Starmer. Upaya itu dijajaki melalui kerja sama militer untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang kerap menjadi titik ketegangan global.

Streeting dikabarkan telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth, membahas kemungkinan penggalangan koalisi internasional. Menurut laporan The Telegraph yang dikutip kantor berita ANTARA, Streeting dan Hegseth sepakat untuk menyelenggarakan konferensi di London sebagai wadah pembentukan aliansi perlindungan pelayaran di Selat Hormuz.

Hubungan Inggris-AS memburuk setelah Starmer menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengerahkan kapal perang Inggris ke Selat Hormuz pada Maret lalu. Penolakan itu memicu kemarahan Trump, yang kemudian mengancam akan menarik AS keluar dari NATO jika aliansi itu enggan membantu operasi militer melawan Iran.

Ketegangan kian memuncak ketika para petinggi NATO menyuarakan ketidakpuasan terhadap lambannya pertumbuhan komitmen belanja pertahanan Inggris. The Times pada Februari lalu melaporkan bahwa aliansi Atlantik Utara itu menilai kontribusi Inggris masih di bawah ekspektasi, terutama setelah Trump menuntut setiap anggota meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari PDB.

Di tengah tekanan itu, Streeting berupaya memperbaiki citra Inggris di mata Trump. Selain membahas Selat Hormuz, ia juga menjanjikan modernisasi angkatan bersenjata Inggris sebagai bentuk keseriusan London dalam memenuhi kewajiban pertahanan NATO.

Bagi Indonesia, dinamika hubungan Inggris-AS di Selat Hormuz memiliki dampak langsung. Indonesia mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar dari Timur Tengah, dan gangguan di jalur pelayaran tersebut dapat memicu lonjakan harga energi. Kenaikan harga BBM di dalam negeri berpotensi mengerek biaya operasional klub olahraga, dari transportasi tim hingga pengelolaan stadion.

Fluktuasi ekonomi akibat ketidakstabilan geopolitik juga dapat memengaruhi daya beli sponsor dan penonton. Investasi asing di industri olahraga Indonesia, termasuk kerja sama dengan klub sepak bola Eropa, cenderung mengikuti iklim bisnis global yang dipengaruhi oleh hubungan antara negara-negara besar seperti Inggris dan AS.

Situasi ini mengingatkan pada tahun 2019 ketika ketegangan di Selat Hormuz sempat mendorong harga minyak naik 15 persen, dan Indonesia harus mengalokasikan tambahan subsidi energi yang kemudian mengurangi anggaran untuk pembinaan olahraga usia muda. Pengalaman itu menunjukkan bahwa stabilitas kawasan Teluk punya efek berantai hingga ke lapangan hijau.

Laporan The Telegraph mengungkapkan, lewat sumber yang dekat dengan Streeting, bahwa pembicaraan dengan Hegseth berlangsung konstruktif. Keduanya sepakat perlunya koalisi internasional yang solid untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz tanpa memicu konflik langsung dengan Iran.

Pertemuan tingkat tinggi di London direncanakan dalam waktu dekat. Koalisi ini diharapkan melibatkan negara-negara mitra lain, termasuk dari Asia, meski belum disebut nama spesifik. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Inggris ingin kembali memainkan peran sentral dalam arsitektur keamanan global.

Ke depan, komitmen belanja pertahanan Inggris akan menjadi barometer utama dalam hubungan bilateral dengan AS. Jika London sanggup memenuhi tuntutan Trump, tekanan terhadap NATO bisa mereda dan stabilitas kawasan terjaga. Sebaliknya, kegagalan memperbaiki hubungan justru akan memperlebar celah transatlantik yang sudah mulai menganga.

Dari sudut pandang olahraga Indonesia, setiap perubahan kebijakan pertahanan dan energi di level global patut dicermati. Indonesia bisa belajar dari langkah Inggris yang menggunakan kerja sama keamanan sebagai alat diplomasi—sebuah pendekatan yang mungkin bisa diadaptasi untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang olahraga, seperti pertukaran pelatih atau pengembangan infrastruktur.

Mengapa Ini Penting

Stabilitas hubungan Inggris-AS memengaruhi arus investasi global yang berdampak langsung pada sponsor dan transfer pemain di Indonesia. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Selat Hormuz bisa mengerek biaya operasional klub dan mengurangi anggaran pembinaan olahraga nasional. Sikap Indonesia terhadap isu ini juga menentukan kredibilitasnya sebagai mitra dagang strategis negara-negara Barat. Bagi penggemar, konflik diplomatik seperti ini mengingatkan bahwa politik besar selalu punya efek ke lapangan, baik lewat harga tiket maupun kualitas kompetisi.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
26 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit