Instacart mulai mendefinisikan ulang peran insinyur perangkat lunak dengan menyerahkan sebagian besar tugas teknis repetitif kepada sistem kecerdasan buatan (AI). CTO Instacart, Anirban Kundu, mengungkapkan bahwa kini 97 persen kode di perusahaan tersebut dihasilkan secara otomatis oleh agen AI, sehingga tim pengembang tidak lagi perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk membenahi utang teknis atau tech debt.
Dalam paradigma baru ini, insinyur tidak lagi menulis kode secara manual. Fokus mereka bergeser dari tingkat taktis pembuatan kode menjadi perancang sistem yang mengarahkan AI untuk memberikan hasil yang diinginkan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengabaikan utang teknis karena kode yang tidak lagi aktif akan langsung dibuang dan dibangun ulang saat dibutuhkan kembali, menyerupai cara kerja kode perakitan di masa lalu.
Namun, bukan berarti peran manusia hilang sepenuhnya. Sekitar 3 persen sistem, terutama yang berkaitan dengan kepatuhan, latensi tinggi, dan sistem warisan (legacy), masih memerlukan intervensi manusia. Instacart saat ini menjalankan proyek ambisius bernama Atoms, yang bertujuan memecah monolit sistem lama dan membangunnya kembali menjadi modul-modul yang lebih bersih serta berbasis arsitektur RPC.
Perubahan ini membawa tantangan baru dalam hal evaluasi. Jika sebelumnya tinjauan kode (code review) menjadi standar, kini Instacart beralih ke model berbasis intensi. Pengembang dilatih untuk memberikan pertanyaan yang tepat kepada model AI. Sistem evaluasi otomatis kini menjalankan sekitar 7.000 pengujian setiap bulan dengan akurasi mencapai 99,9 persen dalam menjawab ribuan kueri pengembang secara real-time.
Selain pembuatan kode, Instacart mengimplementasikan sistem Site Reliability Engineering (SRE) berbasis agen yang dinamakan Blueberry. Sistem ini dilatih menggunakan data insiden internal perusahaan selama bertahun-tahun, bukan sekadar data kegagalan umum. Hasilnya, akurasi deteksi dan mitigasi masalah produksi meningkat drastis dari 60 persen menjadi lebih dari 90 persen.
Blueberry membuktikan kemampuannya dengan memantau ratusan saluran Slack dan pola komunikasi manusia. Dalam satu insiden, sistem ini berhasil mengidentifikasi masalah pada shard basis data yang disebabkan oleh fitur 'roulette' yang tidak memadai, jauh lebih cepat daripada intuisi manusia yang sering kali terjebak pada pola penyelesaian masalah konvensional.
Kundu menegaskan bahwa intuisi manusia terkadang justru menghambat kecepatan dalam menangani insiden kompleks. Sistem AI mampu melihat gambaran besar secara komprehensif tanpa terpengaruh bias pola masa lalu. Hal ini memaksa insinyur untuk memiliki keahlian baru: mengawasi proses evaluasi, mengoordinasi eksperimen fitur, dan mengelola batasan sistem.
Demokratisasi kode menjadi visi besar Instacart ke depan. Perusahaan berusaha menghilangkan ketergantungan pada tim pemilik kode tertentu dengan menyematkan pengetahuan domain ke dalam spesifikasi yang dapat diakses oleh tim mana pun. Dengan begitu, perubahan sistem tidak lagi terhambat di satu pintu, melainkan menjadi kolaborasi yang lebih fleksibel.
Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, langkah Instacart ini memberikan sinyal kuat tentang pergeseran nilai seorang pengembang. Di Indonesia, di mana banyak startup sedang berjuang menyeimbangkan kecepatan inovasi dengan efisiensi biaya, adopsi AI agent untuk SRE bisa menjadi solusi untuk menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan uptime layanan.
Meski demikian, tantangan di Indonesia terletak pada kesenjangan talenta. Transisi dari 'penulis kode' menjadi 'pengarah AI' membutuhkan pergeseran kurikulum pendidikan teknologi dan pelatihan internal perusahaan. Perusahaan lokal harus mulai mempertimbangkan untuk membangun basis data insiden internal sebagai aset strategis untuk melatih model AI mereka sendiri, alih-alih bergantung sepenuhnya pada alat komersial luar negeri.
Ke depan, tren ini akan memaksa perusahaan teknologi di Indonesia untuk lebih modular. Sistem monolit yang kaku akan menjadi beban yang sangat mahal. Adopsi arsitektur yang mendukung otomatisasi penuh bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk tetap kompetitif di pasar yang sangat dinamis.
Pada akhirnya, peran insinyur di era AI akan menjadi lebih strategis dan manajerial. Mereka tidak lagi berkutat dengan sintaks yang membosankan, melainkan menjadi arsitek yang memastikan bahwa sistem AI bekerja selaras dengan tujuan bisnis, menangani kasus-kasus ekstrem, dan memastikan integritas sistem tetap terjaga di tengah otomatisasi yang masif.